Kontrak Baru KOKA dari KAI Tembus Rp31,3 Miliar

Dwi Prakoso

Kontrak Baru KOKA dari KAI Tembus Rp31,3 Miliar

Suratkami.com, Jakarta – PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) kembali memperoleh proyek strategis dari sektor industri pengolahan aluminium. Perseroan mengumumkan kontrak baru KOKA dari PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) dengan nilai mencapai Rp31,3 miliar.

Informasi tersebut disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi kepada publik pada Rabu (6/5/2026). Kontrak ini menjadi salah satu proyek penting bagi KOKA di tengah meningkatnya aktivitas pembangunan industri hilirisasi mineral di Indonesia.

Selain itu, proyek baru tersebut diyakini mampu memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan perusahaan dalam beberapa bulan ke depan. Manajemen menilai kontrak ini juga dapat memperkuat keberlanjutan usaha perseroan di sektor konstruksi dan instalasi industri.

Kontrak Baru KOKA untuk Proyek Silo Alumina

Corporate Secretary KOKA, M. Fikri Adzkiya, mengatakan perseroan mendapatkan pekerjaan konstruksi dan instalasi proyek silo penyimpanan alumina milik KAI.

Menurut dia, kontrak baru KOKA tersebut memiliki nilai sekitar Rp31,3 miliar. Namun, nilai itu masih bersifat tentatif dan dapat berubah sesuai realisasi pekerjaan di lapangan.

“Perseroan memperoleh kontrak penting yaitu kontrak pekerjaan konstruksi dan instalasi proyek silo penyimpanan alumina,” ujar Fikri dalam keterbukaan informasi.

Sementara itu, masa pengerjaan proyek ditetapkan selama 181 hari kalender sejak pekerjaan dimulai. Dengan durasi tersebut, proyek diperkirakan selesai dalam waktu sekitar enam bulan.

Manajemen KOKA optimistis proyek ini akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan. Selain meningkatkan pendapatan, kontrak tersebut juga dinilai mendukung keberlangsungan bisnis perseroan dalam jangka panjang.

Dampak Kontrak terhadap Kinerja Perseroan

Kehadiran kontrak baru KOKA dinilai menjadi katalis positif bagi emiten konstruksi tersebut. Pasalnya, proyek industri pengolahan aluminium saat ini terus berkembang seiring dorongan hilirisasi pemerintah.

Fikri menegaskan proyek ini akan menambah pemasukan perusahaan selama periode pengerjaan berlangsung. Di sisi lain, proyek tersebut juga membuka peluang kerja sama lanjutan dengan perusahaan industri lainnya.

Nilai Kontrak Masih Bisa Berubah

Meski demikian, perseroan menegaskan nilai kontrak masih dapat mengalami penyesuaian. Perubahan itu bergantung pada kuantitas pekerjaan aktual di lapangan.

Kondisi tersebut umum terjadi dalam proyek konstruksi industri berskala besar. Karena itu, realisasi akhir nilai proyek nantinya bisa lebih tinggi ataupun lebih rendah dari nilai awal kontrak.

Namun begitu, pasar menilai proyek ini tetap memberikan sentimen positif bagi KOKA. Apalagi, sektor pengolahan aluminium nasional saat ini sedang berkembang cukup agresif.

Berikut beberapa dampak potensial dari proyek tersebut bagi perseroan:

  • Meningkatkan pendapatan perusahaan
  • Menambah portofolio proyek industri
  • Memperkuat posisi KOKA di sektor konstruksi
  • Membuka peluang kontrak lanjutan
  • Mendukung keberlanjutan usaha jangka panjang

Profil KAI dan Keterkaitannya dengan ADMR

PT Kalimantan Aluminium Industry merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan aluminium. KAI menjadi salah satu entitas usaha yang terkait dengan pengembangan industri hilirisasi mineral di Indonesia.

Mayoritas saham KAI dimiliki oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melalui anak usahanya, PT Alamtri Indo Aluminium. Kepemilikan saham ADMR di KAI mencapai 65 persen.

Sementara itu, sisanya dimiliki oleh Aumay Mining Pte Ltd asal Singapura sebesar 22,5 persen dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sebesar 12,5 persen.

Komposisi kepemilikan tersebut menunjukkan proyek KAI memiliki dukungan dari sejumlah perusahaan besar di sektor pertambangan dan pengolahan mineral.

Selain itu, pembangunan fasilitas penyimpanan alumina menjadi bagian penting dalam rantai produksi aluminium. Fasilitas silo digunakan untuk menyimpan material alumina sebelum diproses lebih lanjut menjadi aluminium.

Karena itu, proyek yang dikerjakan KOKA dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung operasional industri pengolahan aluminium nasional.

Industri Hilirisasi Mineral Masih Menarik

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong hilirisasi mineral guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Kebijakan tersebut membuat kebutuhan pembangunan fasilitas industri ikut meningkat.

Kondisi itu membuka peluang besar bagi perusahaan konstruksi dan instalasi industri seperti KOKA. Permintaan proyek pembangunan smelter, gudang penyimpanan, hingga fasilitas pengolahan diperkirakan terus tumbuh.

Selain itu, meningkatnya investasi di sektor aluminium juga menjadi sinyal positif bagi industri penunjang lainnya. Dengan adanya kontrak baru KOKA ini, perseroan diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing bisnisnya.

Di sisi lain, investor juga akan mencermati realisasi proyek tersebut terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa kuartal mendatang. Jika proyek berjalan sesuai target, maka potensi peningkatan pendapatan KOKA dapat semakin terlihat pada laporan keuangan berikutnya.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kunjungi Artikel