Asing Net Sell Rp2,4 Triliun, IHSG Tetap Menguat

Dwi Prakoso

asing net sell

Suratkami.com – Jakarta – Aksi asing net sell kembali mendominasi perdagangan pasar saham domestik sepanjang sepekan terakhir. Investor asing tercatat melepas saham dengan nilai besar, mencapai Rp2,40 triliun di pasar reguler.

Tekanan jual tersebut terutama menyasar saham-saham unggulan atau blue chip. Sektor perbankan menjadi target utama, meskipun sebagian harga saham masih menunjukkan ketahanan.

Namun demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya menekan pasar. Di tengah derasnya asing net sell, Indeks Harga Saham Gabungan tetap mencatatkan penguatan yang cukup solid.

Asing Net Sell Dominasi Saham Perbankan

Data perdagangan menunjukkan aksi asing net sell terbesar terjadi pada saham perbankan. Saham milik pemerintah dan swasta besar menjadi sasaran utama pelepasan.

Di posisi teratas, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell mencapai Rp1,09 triliun. Menariknya, harga saham BBRI masih naik 1,18 persen ke level Rp3.430 per saham.

Selain itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami net sell sebesar Rp995,23 miliar. Saham ini justru terkoreksi 4,10 persen ke Rp6.425 per saham.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga dilepas investor asing sebesar Rp562,14 miliar. Harga sahamnya turun tipis 1,07 persen menjadi Rp4.620 per saham.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi asing net sell besar, tidak semua saham langsung mengalami tekanan signifikan.

Tekanan Jual Merambah Saham Konglomerasi

Selain sektor perbankan, asing net sell juga terlihat pada saham-saham yang terafiliasi dengan grup konglomerasi besar.

Dari Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dilepas Rp554,74 miliar. Meski demikian, sahamnya masih naik tipis 0,81 persen.

Di sisi lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat net sell sebesar Rp125,52 miliar.

Sementara itu, saham dari Grup Barito juga tidak luput dari tekanan jual. PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat net sell Rp174,87 miliar, meskipun harga melonjak 15,35 persen dalam sepekan.

Hal serupa terjadi pada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang dilepas Rp74,04 miliar. Menariknya, saham ini justru melesat 16,45 persen.

Selain itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat net sell Rp95,47 miliar dengan kenaikan harga 2,30 persen.

Kemudian, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dilepas Rp183,54 miliar, meskipun harga sahamnya melonjak 9,70 persen.

Fenomena Harga Naik di Tengah Net Sell

Fenomena menarik terjadi ketika sejumlah saham tetap menguat meskipun mengalami asing net sell. Hal ini menunjukkan adanya peran investor domestik yang cukup kuat.

Selain itu, sentimen positif terhadap sektor tertentu juga mendorong permintaan tetap tinggi. Karena itu, tekanan jual dari asing tidak selalu berujung pada penurunan harga.

IHSG Tetap Menguat di Tengah Tekanan

Di tengah derasnya asing net sell, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatat kenaikan sebesar 2,35 persen sepanjang pekan.

IHSG ditutup di level 7.634,00, didorong oleh penguatan saham-saham berkapitalisasi besar. Saham dari kelompok konglomerat, khususnya Grup Barito, menjadi penopang utama.

Kondisi ini mencerminkan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tahan yang kuat. Selain itu, partisipasi investor lokal juga semakin signifikan dalam menjaga stabilitas pasar.

Sentimen Global Ikut Mendorong Pasar

Dari sisi global, sentimen pasar cenderung positif. Penurunan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan pasar saham.

Harga minyak turun setelah Iran memastikan Selat Hormuz tetap terbuka selama masa gencatan senjata. Hal ini meredakan kekhawatiran terkait pasokan energi global.

Selain itu, penurunan harga energi turut menekan inflasi global. Dampaknya, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga mengalami penurunan.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi aset berisiko untuk menguat. Pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ikut merasakan dampak positif tersebut.

Namun demikian, situasi geopolitik masih belum sepenuhnya stabil. Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), meskipun sebelumnya sempat dibuka.

Langkah ini diambil karena ketegangan dengan Amerika Serikat belum mereda. Jalur tersebut kini berada di bawah pengawasan militer ketat.

Prospek Pasar dan Sikap Investor

Ke depan, pergerakan pasar saham diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika global dan arus dana asing. Asing net sell berpotensi berlanjut jika ketidakpastian meningkat.

Namun, kekuatan investor domestik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar. Selain itu, kinerja emiten besar juga akan menentukan arah IHSG.

Karena itu, pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan global. Meskipun begitu, peluang tetap terbuka di tengah volatilitas yang terjadi.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global, pasar saham Indonesia masih memiliki potensi untuk bergerak positif dalam jangka menengah.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral SEVA Juli 2026 untuk Daftar Cepat, Kredit Mobil dan Dana Tunai

Kode Referral SEVA Juli 2026 untuk Daftar Cepat, Kredit Mobil dan Dana Tunai

Kunjungi Artikel