Harga CPO Naik Tiga Pekan Beruntun Meski Ditutup Melemah

Dwi Prakoso

Harga CPO Naik Tiga Pekan Beruntun Meski Ditutup Melemah

SuratKami.com, Jakarta – Harga CPO naik tiga pekan beruntun meski menghadapi tekanan pada perdagangan akhir pekan. Kontrak minyak sawit mentah acuan di Bursa Malaysia ditutup melemah pada Jumat (5/6/2026), namun masih mencatat penguatan secara mingguan.

Pergerakan pasar minyak sawit sepanjang pekan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelemahan minyak nabati pesaing hingga munculnya kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor baru Indonesia. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Meski demikian, sejumlah faktor pendukung masih mampu menjaga tren kenaikan harga minyak sawit mentah. Pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia serta kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi penopang utama pasar selama beberapa pekan terakhir.

Harga CPO Naik Tiga Pekan Beruntun di Tengah Tekanan Pasar

Kontrak CPO pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 1,02 persen menjadi 4.554 ringgit Malaysia per ton pada perdagangan Jumat.

Walaupun mengalami koreksi harian, kontrak tersebut masih berhasil membukukan kenaikan sebesar 0,42 persen sepanjang pekan. Dengan hasil tersebut, harga CPO naik tiga pekan beruntun dan menunjukkan ketahanan di tengah berbagai sentimen negatif.

Tekanan utama datang dari melemahnya harga minyak nabati di Bursa Dalian, China. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati regulasi baru pemerintah Indonesia yang akan menempatkan ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit, di bawah kendali pemerintah pusat.

Kebijakan tersebut memunculkan ketidakpastian baru bagi pelaku industri. Pasar masih menunggu kejelasan mengenai implementasi aturan serta dampaknya terhadap arus perdagangan minyak sawit global.

Stok dan Ekspor Malaysia Menjadi Sorotan

Faktor lain yang membatasi kenaikan harga adalah ekspektasi meningkatnya persediaan minyak sawit Malaysia. Survei yang dilakukan Reuters memperkirakan stok minyak sawit pada Mei meningkat untuk bulan kedua secara berturut-turut.

Sementara itu, data dari perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada Mei turun antara 8,8 persen hingga 15,5 persen dibandingkan April.

Penurunan ekspor tersebut mencerminkan permintaan global yang masih belum sepenuhnya pulih. Beberapa negara tujuan utama masih melakukan penyesuaian pembelian karena kondisi ekonomi dan harga komoditas yang berfluktuasi.

Permintaan India Mulai Membaik

India sebagai importir minyak sawit terbesar dunia mulai menunjukkan peningkatan pembelian setelah sebelumnya mencapai level terendah dalam empat bulan pada April.

Namun demikian, volume impor dari India masih berada di bawah rata-rata normal. Karena itu, pemulihan permintaan belum cukup kuat untuk memberikan dorongan signifikan terhadap harga dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini menunggu data impor berikutnya untuk melihat apakah tren pemulihan dapat berlanjut pada semester kedua tahun ini.

Ringgit Lemah dan Harga Energi Topang Pasar

Di tengah berbagai tekanan, harga CPO tetap mendapatkan dukungan dari pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia. Mata uang yang lebih lemah membuat produk ekspor Malaysia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia sepanjang pekan turut memberikan sentimen positif. Mandeknya pembicaraan antara Washington dan Teheran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Kondisi tersebut membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel. Akibatnya, permintaan potensial dari sektor energi membantu menjaga stabilitas harga minyak sawit.

Para analis menilai faktor energi masih akan menjadi salah satu penggerak utama pasar CPO dalam beberapa bulan mendatang. Jika harga minyak mentah tetap tinggi, maka permintaan biodiesel berpotensi meningkat.

Cuaca Kering dan El Nino Jadi Dukungan Jangka Panjang

Selain faktor energi, dukungan jangka panjang bagi pasar minyak sawit juga datang dari kondisi cuaca. Beberapa wilayah di Asia mulai mengalami cuaca yang lebih kering dibandingkan periode normal.

Pelaku pasar juga mencermati potensi fenomena El Nino yang diperkirakan cukup kuat. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produktivitas perkebunan dan menekan pasokan minyak nabati global.

Kekhawatiran terhadap produksi menjadi salah satu alasan mengapa harga CPO masih mampu bertahan dalam tren penguatan mingguan. Pasar biasanya merespons lebih cepat terhadap risiko gangguan pasokan dibandingkan perubahan permintaan.

Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, menilai pasar turut mendapat dukungan dari perkiraan penurunan produksi minyak sawit selama Mei.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia telah resmi menerbitkan regulasi baru terkait ekspor komoditas strategis pada Jumat. Masa transisi kebijakan dimulai sejak 1 Juni 2026, sementara penerapan penuh dijadwalkan berlangsung pada awal tahun depan.

Dengan kombinasi faktor cuaca, harga energi, nilai tukar, serta kebijakan perdagangan, pergerakan harga minyak sawit diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam waktu dekat. Namun sejauh ini, tren harga CPO naik tiga pekan beruntun menunjukkan bahwa pasar masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan di tengah berbagai tantangan global.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Akulaku Juni 2026, SAL47Q: Cara Dapat Pinjaman Cepat dan Bonus hingga Ratusan Ribu

Kode Referral Akulaku Juni 2026, SAL47Q: Cara Dapat Pinjaman Cepat dan Bonus hingga Ratusan Ribu

Kunjungi Artikel