Anak WIFI Raih Pinjaman Rp1 Triliun dari Lembaga Kredit Ekspor Kanada

Dwi Prakoso

Anak WIFI Raih Pinjaman Rp1 Triliun dari Lembaga Kredit Ekspor Kanada
Anak WIFI Raih Pinjaman Rp1 Triliun dari Lembaga Kredit Ekspor Kanada

Suratkami.com – Jakarta, PT Integrasi Jaringan Ekosistem atau IJE, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), meraih fasilitas kredit hingga US$60 juta dari Export Development Canada (EDC). Nilai pinjaman WIFI tersebut setara sekitar Rp1,08 triliun dengan kurs Rp17.986 per dolar AS pada 28 September 2026.

IJE bergerak di bidang Fiber-to-the-Home (FTTH) dan menjadi bagian dari ekosistem usaha WIFI. EDC sendiri merupakan lembaga kredit ekspor milik pemerintah Kanada. Kedua pihak menandatangani perjanjian fasilitas kredit pada 25 September 2026.

Sementara itu, fasilitas tersebut memiliki periode ketersediaan selama sembilan bulan. IJE kemudian akan menghadapi jatuh tempo pembayaran tiga tahun setelah tanggal perjanjian fasilitas.

Pinjaman WIFI untuk Pengadaan Peralatan Nokia

Direktur Utama IJE Hendrik Tee menjelaskan tujuan penggunaan fasilitas kredit tersebut. Menurut dia, IJE akan memakai dana untuk membiayai pengadaan barang dan jasa dari Nokia OYJ serta anak perusahaannya.

Hendrik menyampaikan keterangan tersebut melalui informasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 28 September 2026. Penggunaan dana itu berkaitan dengan kebutuhan pengembangan usaha dan belanja modal perusahaan.

Selain itu, IJE akan mengelola penggunaan fasilitas kredit dengan memperhatikan kemampuan keuangan perusahaan. IJE juga akan mengikuti ketentuan yang tercantum dalam perjanjian kredit dengan EDC.

Dengan demikian, fasilitas baru ini memperkuat sumber pendanaan IJE untuk mendukung kebutuhan bisnisnya. Pengadaan perangkat dari Nokia juga berkaitan dengan pengembangan jaringan FTTH yang menjadi bidang usaha IJE.

Nilai Pinjaman WIFI Capai 40,45% dari Ekuitas IJE

Laporan keuangan IJE per 30 Maret 2026 menunjukkan posisi keuangan perusahaan sebelum fasilitas baru tersebut. Pada periode itu, IJE mencatat total aset sebesar Rp6,63 triliun.

Di sisi lain, total liabilitas IJE mencapai Rp3,97 triliun. Sementara itu, nilai fasilitas US$60 juta atau sekitar Rp1,1 triliun setara dengan sekitar 40,45% dari total ekuitas IJE berdasarkan laporan keuangan tersebut.

Angka tersebut menunjukkan besarnya nilai fasilitas kredit jika dibandingkan dengan ekuitas perusahaan. Namun, penggunaan dana tetap mengikuti tujuan yang tercantum dalam perjanjian antara IJE dan EDC.

Karena itu, perkembangan penggunaan fasilitas kredit menjadi salah satu hal yang dapat diperhatikan investor ketika melihat perkembangan bisnis grup WIFI. Terlebih lagi, dana tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan pengembangan jaringan FTTH.

WIFI Sebelumnya Juga Mendapat Fasilitas dari EDC

Fasilitas kredit terbaru ini bukan hubungan pertama antara grup WIFI dan EDC. Sebelumnya, WIFI juga memperoleh fasilitas kredit senilai US$30 juta dari lembaga kredit ekspor Kanada tersebut.

Fasilitas sebelumnya memiliki masa berlaku hingga 14 Maret 2028. Pada saat itu, WIFI menggunakan fasilitas tersebut untuk membeli peralatan dari Nokia guna mendukung proyek FTTH milik IJE.

Dengan adanya fasilitas baru, hubungan pendanaan antara grup WIFI dan EDC kembali berlanjut. Selanjutnya, IJE dapat memanfaatkan fasilitas tersebut sesuai tujuan pengadaan barang dan jasa yang tercantum dalam perjanjian.

Struktur Kepemilikan IJE dalam Grup WIFI

IJE merupakan anak usaha tidak langsung WIFI melalui PT Jaringan Infra Andalan atau JIA. WIFI memiliki 50,85% kepemilikan pada IJE melalui struktur tersebut.

Sementara itu, NTT e-Asia Pte Ltd asal Singapura memiliki 49% saham IJE. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari NTT Group asal Jepang.

Struktur kepemilikan tersebut membuat IJE menjadi salah satu entitas penting dalam pengembangan bisnis FTTH grup WIFI. Di sisi lain, keterlibatan NTT e-Asia juga memperlihatkan adanya mitra strategis dalam struktur pemegang saham IJE.

Dampak Fasilitas Kredit terhadap Bisnis IJE

Fasilitas US$60 juta memberikan tambahan sumber pendanaan bagi IJE. Perusahaan mengarahkan dana tersebut untuk pengadaan barang dan jasa dari Nokia serta kebutuhan yang berkaitan dengan pengembangan usaha dan belanja modal.

Namun, tambahan pendanaan juga perlu dilihat bersama posisi liabilitas dan ekuitas perusahaan. Pada Maret 2026, IJE mencatat liabilitas Rp3,97 triliun dan aset Rp6,63 triliun.

Oleh karena itu, investor dapat memperhatikan perkembangan penggunaan fasilitas kredit tersebut serta dampaknya terhadap kegiatan usaha IJE. Perkembangan proyek FTTH juga menjadi bagian penting karena pengadaan perangkat Nokia berkaitan dengan kebutuhan jaringan tersebut.

Pada akhirnya, fasilitas dari EDC menambah pilihan pendanaan bagi IJE dalam menjalankan ekspansi bisnis. Grup WIFI sebelumnya juga telah memanfaatkan fasilitas dari EDC untuk mendukung kebutuhan peralatan proyek FTTH.

Dengan fasilitas baru senilai US$60 juta, IJE memiliki akses pendanaan yang setara sekitar Rp1,08 triliun berdasarkan kurs pada 28 September 2026. Selanjutnya, penggunaan dana dan perkembangan bisnis FTTH akan menjadi bagian penting dalam melihat kinerja IJE serta kontribusinya terhadap grup WIFI.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Digipulsa Siap Tampung Order Top Up Game Ramadhan dan Lebaran 2026

Digipulsa Siap Tampung Order Top Up Game Ramadhan dan Lebaran 2026

Kunjungi Artikel