suratkami.com – Jakarta, produksi mobil China di Indonesia mencapai 87.319 unit sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) itu setara sekitar 10,16 persen dari total produksi kendaraan roda empat nasional.
Pada periode yang sama, industri otomotif Indonesia memproduksi 859.256 kendaraan roda empat. Jumlah tersebut naik 13,4 persen dibandingkan Januari-Agustus tahun sebelumnya, ketika produksi tercatat 757.432 unit.
Data tersebut memperlihatkan keterlibatan sejumlah merek China dalam kegiatan manufaktur di dalam negeri. Kehadiran mereka tidak lagi hanya tercermin dari penjualan kendaraan, tetapi juga dari produksi melalui fasilitas sendiri maupun kerja sama dengan perusahaan perakitan lokal.

Indra Kenz Terancam Kembali ke Lapas, Program Bebas Bersyarat Akan Dicabut
Produksi mobil China dipimpin BYD dan Jaecoo
BYD mencatat produksi lokal tertinggi di antara 12 merek China, yakni 24.877 unit. Jumlah itu menempatkan BYD pada posisi kedelapan dalam daftar produsen dengan volume produksi terbesar di Indonesia hingga Agustus 2026.
Produksi tersebut sejalan dengan beroperasinya fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat. Pabrik itu memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun, dengan nilai investasi yang disebut mencapai Rp 16 triliun.
Jaecoo menyusul dengan produksi 23.021 unit. Merek tersebut melakukan kegiatan produksi melalui fasilitas perakitan PT Handal Indonesia Motor (HIM). Sementara itu, Wuling berada di posisi ketiga dengan 12.630 unit dan memiliki fasilitas manufaktur sendiri di Cikarang, Jawa Barat.
Berikut jumlah produksi lokal 12 merek China selama Januari-Agustus 2026:
- BYD: 24.877 unit
- Jaecoo: 23.021 unit
- Wuling: 12.630 unit
- Geely: 10.665 unit
- Chery: 9.438 unit
- Xpeng: 2.452 unit
- Jetour: 2.383 unit
- DFSK: 744 unit
- iCar: 550 unit
- Aletra: 460 unit
- GWM: 69 unit
- Farizon: 30 unit
Perakitan dilakukan lewat fasilitas berbeda
PT Handal Indonesia Motor juga merakit kendaraan untuk Geely, Chery, Xpeng, Jetour, iCar, dan Aletra. Dengan demikian, sejumlah merek tersebut menggunakan fasilitas perakitan lokal yang sama, sementara merek lain tercatat memiliki atau menjalankan kegiatan produksi melalui fasilitas berbeda.
Wuling mengoperasikan fasilitas manufaktur sendiri di Cikarang. Adapun GWM menjalankan kegiatan perakitan melalui fasilitasnya di Wanaherang, Jawa Barat. BYD memiliki fasilitas manufaktur di Subang, sedangkan Jaecoo melakukan produksi melalui PT HIM.
Data yang tersedia mencatat volume produksi setiap merek, tetapi tidak merinci fasilitas produksi untuk seluruh nama dalam daftar. Karena itu, angka produksi dan informasi lokasi fasilitas yang disebutkan menunjukkan dua hal berbeda: besarnya kontribusi tiap merek serta jalur manufaktur yang diketahui digunakan sejumlah perusahaan.
Porsi produksi terhadap industri nasional
Jika digabungkan, produksi 12 merek tersebut menyumbang sekitar satu dari setiap sepuluh kendaraan roda empat yang diproduksi di Indonesia pada periode itu. Perhitungannya mengacu pada total 87.319 unit dari merek China dan 859.256 unit produksi nasional.
BYD dan Jaecoo menyumbang volume terbesar dalam kelompok tersebut, disusul Wuling dan Geely. Di sisi lain, beberapa merek mencatat produksi di bawah 1.000 unit. Perbedaan angka itu menunjukkan bahwa kontribusi produksi lokal antarmerek masih beragam.
Secara keseluruhan, kenaikan produksi kendaraan nasional dan kontribusi 12 merek China menjadi bagian dari gambaran industri otomotif Indonesia pada Januari-Agustus 2026. Keberadaan pabrik sendiri maupun kerja sama perakitan membuat produsen China turut mengambil bagian dalam rantai manufaktur kendaraan di dalam negeri. Data Gaikindo tersebut menjadi dasar untuk melihat skala produksi mereka pada periode tersebut, tanpa mengubah perbedaan kapasitas dan metode produksi masing-masing merek.







