Daftar Isi 3 bagian
Suratkami.com – Pendapatan Diamond Propertindo (DADA) mencapai Rp28,96 miliar hingga 30 September 2026. Angka tersebut tumbuh 220 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika pendapatan tercatat Rp9,05 miliar. Pada periode yang sama, laba bersih perseroan meningkat 863,76 persen menjadi Rp8,24 miliar dari Rp855 juta.
Kenaikan pendapatan dan laba itu terjadi saat saham DADA masih bergerak di level rendah. Perseroan juga mencatat perubahan pada sejumlah pos beban, laba, serta kondisi keuangan. Karena itu, kinerja sembilan bulan pertama 2026 memberikan gambaran yang lebih luas daripada pertumbuhan laba bersih saja.
Kinerja DADA kuartal III 2026: pendapatan dan laba tumbuh
Pendapatan bersih Rp28,96 miliar menjadi salah satu perubahan paling besar dalam laporan periode ini. Setahun sebelumnya, perseroan membukukan Rp9,05 miliar. Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan kenaikan beban pokok pendapatan, yang mencapai Rp16,15 miliar dari Rp2,71 miliar.
Dengan perubahan pada pendapatan dan beban pokok, DADA mencatat laba kotor Rp12,81 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, laba kotor perusahaan tercatat Rp6,33 miliar. Perbandingan ini menunjukkan bahwa laba kotor meningkat, meskipun beban pokok juga bertambah cukup besar.
Di sisi beban operasional, pengeluaran untuk penjualan dan pemasaran naik menjadi Rp1,12 miliar dari Rp878,18 juta. Namun, beban umum dan administrasi turun menjadi Rp2,9 miliar dari Rp3,78 miliar. Secara keseluruhan, jumlah beban usaha tercatat Rp4,02 miliar, sedikit lebih rendah daripada Rp4,66 miliar setahun sebelumnya.
Perseroan melaporkan laba usaha sebesar Rp16,83 miliar, meningkat dari Rp1,67 miliar pada periode pembanding. Selain itu, penghasilan keuangan mencapai Rp186,8 juta, naik dari Rp4,77 juta. Sementara itu, beban keuangan menyusut menjadi Rp8,1 juta dari Rp399,02 juta.
Laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp8,96 miliar, dibandingkan Rp1,27 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Beban pajak final meningkat menjadi Rp724,07 juta dari Rp226,26 juta. Setelah memperhitungkan pos-pos tersebut, laba bersih tahun berjalan mencapai Rp8,24 miliar.
Laba per saham dasar juga meningkat, dari Rp0,119 menjadi Rp1.109. Angka ini memberi gambaran mengenai laba yang dikaitkan dengan setiap saham berdasarkan perhitungan perusahaan. Meski demikian, perubahan laba per saham perlu dilihat bersama jumlah saham dan pergerakan harga di pasar.
Ekuitas naik, sementara aset sedikit menyusut
Per 30 September 2026, DADA membukukan ekuitas Rp363,95 miliar. Nilai tersebut naik dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp355,7 miliar. Kenaikan ekuitas tercatat bersamaan dengan peningkatan laba pada periode berjalan.
Di sisi lain, total liabilitas turun menjadi Rp272,71 miliar dari Rp283,74 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Penurunan itu menunjukkan nilai kewajiban yang tercatat lebih rendah dibandingkan posisi penutup 2025. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan komposisi atau jadwal pembayaran setiap kewajiban.
Total aset perseroan mencapai Rp636,66 miliar, sedikit turun dari Rp639,44 miliar pada akhir 2025. Jadi, perubahan pada neraca tidak bergerak seragam: ekuitas meningkat, liabilitas menyusut, sedangkan aset mengalami penurunan tipis. Ketiga pos itu membantu melengkapi pembacaan atas pertumbuhan laba dan pendapatan.
Perbandingan posisi neraca tersebut menggunakan akhir 2025 sebagai titik pembanding, berbeda dari angka pendapatan dan laba yang dibandingkan dengan periode sembilan bulan tahun sebelumnya. Karena dasar waktunya tidak sama, pembaca perlu membedakan perbandingan kinerja selama periode berjalan dari perubahan posisi keuangan pada dua tanggal laporan.
Saham DADA masih berada di bawah Rp50
Pergerakan saham DADA masih menjadi perhatian setelah penerapan harga saham Rp1 pada 28 September 2026. Sejak kebijakan itu berlaku, sahamnya tidak kembali menyentuh level Rp50, yang kerap disebut sebagai level gocap. Pada perdagangan terakhir yang tercatat dalam laporan, saham DADA mengalami auto rejection bawah atau ARB.
Saham tersebut berada di kisaran Rp17 setelah sempat bergerak naik-turun. Dibandingkan penutupan 25 September 2026 di Rp50, harganya telah turun sekitar 66 persen atau 33 poin. Perubahan itu menunjukkan bahwa penguatan laba kuartalan belum serta-merta diikuti kenaikan harga saham dalam periode yang sama.
Jika ditarik lebih jauh, harga saham DADA turun sekitar 90,17 persen atau 156 poin dari kisaran Rp173 pada 14 Februari 2020. Dalam rentang 52 minggu terakhir, saham ini sempat menyentuh harga tertinggi Rp71 dan terendah Rp16. Data tersebut memperlihatkan rentang pergerakan yang lebar dalam satu tahun terakhir.
Kapitalisasi pasar DADA tercatat Rp126,34 miliar, dengan rasio harga terhadap laba atau PER sebesar 13,85 kali. Rasio itu merupakan salah satu ukuran yang biasa dipakai untuk membandingkan harga saham dengan laba perusahaan. Namun, angka tersebut tidak menggambarkan seluruh faktor yang dapat memengaruhi minat investor atau pergerakan harga.
Dengan demikian, laporan DADA hingga akhir September 2026 memuat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang kuat, disertai perubahan pada sejumlah pos keuangan. Pada saat bersamaan, sahamnya masih jauh di bawah level Rp50 dan mencatat penurunan dalam rentang tahunan maupun jangka panjang. Perkembangan berikutnya dapat dinilai dengan mencermati laporan keuangan periode selanjutnya serta data perdagangan saham yang tersedia.




