Suratkami.com – Bandar Lampung, abu Krakatau ganggu penerbangan di Bandara Radin Inten II pada Sabtu, 5 September 2026. Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah penerbangan dari dan menuju Lampung.
Sementara itu, layanan penyeberangan Merak–Bakauheni masih berjalan normal hingga Sabtu malam. Otoritas transportasi menilai jarak pandang di sekitar lintasan masih aman untuk pelayaran.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Bambang Sumbogo mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Bandara Radin Inten II, AirNav Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry, serta otoritas pelabuhan. Koordinasi tersebut bertujuan menjaga keselamatan dan kelancaran transportasi.
Abu Krakatau Ganggu Penerbangan di Radin Inten II
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Radin Inten II. Abu vulkanik di sekitar bandara menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan operasional.
Bambang mengatakan dua penerbangan TransNusa dan Lion Air terdampak pada Sabtu sore. Salah satu pesawat TransNusa yang terbang dari Jakarta menuju Radin Inten II kembali ke Jakarta atau Return to Base (RTB).
Penerbangan TransNusa lainnya juga batal berangkat. Selain itu, penerbangan Lion Air tidak melakukan pendaratan di Radin Inten II karena kondisi abu vulkanik.
Hasil paper test menunjukkan adanya abu vulkanik yang dapat memengaruhi mesin pesawat. Karena itu, pihak terkait mengambil keputusan untuk tidak melakukan pendaratan demi keselamatan penerbangan.
Dua Penerbangan Terdampak pada Sabtu
Laporan operasional mencatat TransNusa TNU 5205 rute Jakarta–Tanjungkarang melakukan RTB ke Jakarta. Pesawat tersebut membawa 40 penumpang.
Sementara itu, TransNusa TNU 5206 rute Tanjungkarang–Jakarta mengalami pembatalan. Sebanyak 77 penumpang mendapatkan pilihan untuk melakukan penjadwalan ulang atau pengembalian dana tiket.
Penerbangan Lion Air LNI 242 rute Jakarta–Tanjungkarang juga batal melakukan pendaratan di Bandara Radin Inten II. Kondisi tersebut menunjukkan dampak abu vulkanik terhadap aktivitas penerbangan di Lampung.
Namun, gangguan tersebut tidak langsung berdampak pada seluruh moda transportasi. Penyeberangan Merak–Bakauheni masih berjalan dengan normal hingga Sabtu malam.
Tiga Penerbangan Minggu Pagi Berpotensi Terdampak
Gangguan penerbangan berpotensi berlanjut pada Minggu, 6 September 2026. Tiga penerbangan pada pagi hari masuk dalam jadwal yang terdampak penutupan sementara operasional aerodrome.
Ketiga penerbangan tersebut berada pada rentang pukul 07.00–08.00 WIB. Berikut jadwal yang tercatat dalam laporan operasional:
- GA 073 rute Tanjungkarang–Jakarta pada pukul 07.10 WIB.
- QG 904 rute Jakarta–Tanjungkarang pada pukul 07.20 WIB.
- QG 905 rute Tanjungkarang–Jakarta pada pukul 07.50 WIB.
Bambang menjelaskan pihak terkait akan melakukan paper test kembali mulai pukul 05.00 WIB. Selanjutnya, petugas akan mengevaluasi hasil pengujian pada pukul 07.00 WIB.
Apabila hasil pengujian masih menunjukkan kondisi positif, otoritas akan kembali menetapkan NOTAM atau pemberitahuan pembatalan penerbangan. Sebaliknya, jika hasil pengujian menunjukkan kondisi negatif, otoritas dapat menerbitkan pemberitahuan pembukaan aerodrome.
Penyeberangan Bakauheni–Merak Tetap Normal
Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat pada layanan penyeberangan. PT ASDP Indonesia Ferry memastikan lintasan Merak–Bakauheni masih beroperasi normal hingga Sabtu malam.
Bambang mengatakan jarak pandang di kawasan penyeberangan masih mencapai sekitar tiga nautical mile atau sekitar lima kilometer. Kondisi serupa juga terlihat di sekitar Pulau Sebesi.
Menurut komunikasi dengan GM PT ASDP Bakauheni Partogi dan Kepala KSOP Bakauheni–Merak Suratno, jarak pandang tersebut masih mendukung aktivitas pelayaran. Karena itu, layanan penyeberangan tetap berjalan.
Jarak Pulau Sebesi dengan Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar 20 kilometer. Sementara itu, jarak Bakauheni dengan Anak Krakatau sekitar 40 kilometer.
Meskipun erupsi masih berlangsung, abu vulkanik belum mengganggu operasional penyeberangan hingga pukul 21.00 WIB pada Sabtu. Petugas tetap memantau perkembangan kondisi di lapangan.
ASDP Terus Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Gunung tersebut berada pada Level III atau Siaga, sehingga perkembangan aktivitas vulkanik tetap menjadi perhatian.
ASDP menyatakan Cabang Merak dan Cabang Bakauheni tetap melayani pengguna jasa sesuai ketentuan operasional. Selain itu, petugas memperhatikan kondisi cuaca, perairan, serta perkembangan aktivitas vulkanik.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Windy Andale mengatakan layanan penyeberangan Merak–Bakauheni masih berjalan normal. ASDP juga melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala.
Apabila kondisi berkembang dan berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran, ASDP akan menyesuaikan operasional. Keputusan tersebut mengikuti rekomendasi dan arahan dari instansi yang berwenang.
Keselamatan Menjadi Prioritas Transportasi
Langkah pembatalan dan penundaan penerbangan dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan. Bambang menegaskan keputusan tersebut bertujuan menjaga keamanan penumpang dan operasional penerbangan.
Karena itu, masyarakat yang hendak bepergian melalui jalur udara perlu mengikuti informasi terbaru dari otoritas bandara dan maskapai. Penumpang juga perlu memperhatikan perubahan jadwal penerbangan yang dapat terjadi akibat kondisi abu vulkanik.
Sementara itu, pengguna jasa penyeberangan juga perlu mengikuti arahan petugas di pelabuhan. ASDP mengimbau masyarakat tetap tenang serta memantau informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau.
Dengan demikian, dampak erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini terlihat lebih nyata pada aktivitas penerbangan. Sebaliknya, layanan penyeberangan Merak–Bakauheni masih berlangsung normal dan terkendali berdasarkan kondisi hingga Sabtu malam.










