Daftar Isi 6 bagian
SuratKami.com – Jakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan penting mengenai proses terbentuknya tsunami Pangandaran pada 2006. Hasil kajian peneliti menunjukkan bahwa gempa bumi kemungkinan bukan satu-satunya faktor yang memicu bencana tersebut.
Peneliti menduga pergerakan massa bawah laut turut berkontribusi memperkuat gelombang tsunami. Faktor tersebut juga berpotensi mempercepat kedatangan gelombang ke kawasan pesisir, sehingga waktu respons masyarakat menjadi jauh lebih singkat.
Dalam pemodelan yang dikembangkan tim peneliti, kombinasi sumber gempa dan pergerakan massa bawah laut menghasilkan perkiraan waktu kedatangan tsunami sekitar 20-30 menit. Angka tersebut lebih cepat dibandingkan simulasi yang hanya memperhitungkan sumber gempa, yakni sekitar 40-50 menit.
Temuan ini memberikan gambaran baru mengenai kompleksitas tsunami di selatan Pulau Jawa. Namun, BRIN menegaskan bahwa dugaan keterlibatan pergerakan massa bawah laut masih membutuhkan penelitian lanjutan sebelum memperoleh konfirmasi ilmiah yang lebih kuat.
BRIN Teliti Mekanisme Tsunami Pangandaran
Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, menjelaskan bahwa tsunami Pangandaran termasuk contoh fenomena tsunami earthquake. Istilah tersebut menggambarkan kejadian ketika kekuatan gelombang tsunami jauh lebih besar dibandingkan perkiraan berdasarkan parameter gempa yang tercatat.
Wiko menyampaikan penjelasan tersebut dalam Webinar Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 pada Selasa, 4 Agustus 2026. Informasi mengenai pemaparan itu kemudian dikutip pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Menurut Wiko, sejumlah penelitian mencatat tinggi gelombang di beberapa lokasi mencapai lebih dari 8 meter. Bahkan, sejumlah penyintas menceritakan bahwa gelombang tsunami melampaui ketinggian pohon kelapa di kawasan pesisir.
Kondisi tersebut mendorong peneliti mengevaluasi kemungkinan adanya faktor nonseismik. Artinya, proses pembangkitan tsunami mungkin tidak hanya melibatkan deformasi dasar laut akibat gempa bumi.
Tim peneliti kemudian menguji berbagai skenario untuk memahami mekanisme yang paling mendekati kejadian sebenarnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi gempa bumi dan pergerakan massa bawah laut berpotensi menjelaskan karakteristik tsunami Pangandaran secara lebih baik.
Pergerakan Massa Bawah Laut Percepat Tsunami
Salah satu temuan penting dalam kajian tersebut berkaitan dengan perbedaan waktu kedatangan gelombang. Simulasi yang hanya menggunakan sumber gempa memperkirakan tsunami mencapai pantai dalam waktu sekitar 40-50 menit.
Sementara itu, simulasi yang memasukkan kemungkinan pergerakan massa bawah laut menghasilkan perkiraan waktu kedatangan sekitar 20-30 menit. Hasil ini lebih mendekati sejumlah data empiris yang berasal dari kesaksian penyintas tsunami 2006.
Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya memahami faktor tambahan dalam pembentukan tsunami. Jika mekanisme serupa terjadi pada bencana lain, masyarakat pesisir mungkin memiliki waktu lebih singkat untuk merespons ancaman gelombang besar.
Meski begitu, hasil simulasi tidak berarti setiap gempa di wilayah selatan Jawa pasti menghasilkan tsunami dalam waktu tersebut. Kondisi sumber gempa, karakteristik dasar laut, serta mekanisme pergerakan massa bawah laut tetap memerlukan analisis tersendiri.
Karena itu, peneliti menempatkan temuan ini sebagai dasar pengembangan kajian bahaya tsunami. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji sensitivitas model dan memastikan seberapa besar kontribusi faktor nonseismik terhadap pembentukan gelombang.
Peneliti Uji 14 Skenario Pemodelan Tsunami
Untuk menguji hipotesis tersebut, tim BRIN menggabungkan berbagai sumber data. Peneliti menggunakan data batimetri, topografi, katalog gempa historis, serta hasil observasi lapangan.
Tim kemudian menjalankan simulasi menggunakan sistem nesting grid. Metode ini memungkinkan peneliti menghasilkan pemodelan dengan resolusi tinggi pada wilayah tertentu.
Dengan pendekatan tersebut, simulasi dapat menggambarkan potensi genangan hingga skala bangunan. Peneliti juga dapat mengevaluasi hubungan antara tinggi gelombang, waktu kedatangan tsunami, dan tingkat paparan kawasan terdampak.
Selanjutnya, tim menguji 14 skenario melalui proses iterative calibration. Proses ini membantu peneliti membandingkan hasil setiap simulasi dengan kondisi tsunami yang tercatat pada 2006.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model kombinasi sumber gempa dan indikasi pergerakan massa bawah laut memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi terhadap observasi lapangan. Kesesuaian tersebut terlihat dari beberapa parameter utama, termasuk tinggi gelombang dan waktu kedatangan.
Selain itu, pemodelan juga memperhitungkan dampak terhadap infrastruktur dan korban jiwa. Pendekatan ini memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai risiko tsunami dibandingkan simulasi yang hanya berfokus pada sumber gempa.
Simulasi Ungkap Potensi Genangan hingga Cilacap
Pemodelan resolusi tinggi juga memperlihatkan bahwa dampak tsunami tidak selalu terbatas pada garis pantai. Dalam simulasi tersebut, gelombang berpotensi memasuki daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap.
Kondisi geografis seperti muara sungai dapat memengaruhi jalur masuk air laut ke wilayah daratan. Akibatnya, kawasan yang berada cukup jauh dari garis pantai juga perlu mendapat perhatian dalam kajian risiko tsunami.
Di sisi lain, simulasi berhasil mengidentifikasi sejumlah kawasan yang relatif tidak terdampak gelombang. Informasi tersebut dapat membantu perencana kebencanaan mempertimbangkan lokasi yang berpotensi menjadi zona evakuasi.
Namun, masyarakat tidak boleh langsung menganggap kawasan yang terlihat aman dalam satu simulasi sebagai lokasi evakuasi yang pasti. Pemerintah dan ahli kebencanaan tetap perlu mempertimbangkan akses jalan, kapasitas tempat evakuasi, kondisi geografis, serta kemungkinan perubahan skenario bencana.
Dengan demikian, pemodelan tidak hanya membantu menjelaskan kejadian masa lalu. Hasilnya juga dapat mendukung perencanaan mitigasi yang lebih terarah untuk menghadapi ancaman tsunami di masa mendatang.
BRIN Kembangkan Teknologi Pemantauan Tsunami
Selain mengkaji mekanisme pembentukan tsunami, tim peneliti juga mengevaluasi pendekatan penskalaan sumber gempa. Wiko menjelaskan bahwa formulasi Takemura menghasilkan estimasi yang lebih mendekati data observasi dibandingkan formulasi yang sebelumnya digunakan.
Temuan tersebut dapat membantu meningkatkan ketepatan pemodelan bahaya tsunami. Terlebih lagi, pemodelan beresolusi tinggi dapat memberikan informasi lebih terperinci mengenai wilayah yang berpotensi mengalami genangan.
BRIN juga berencana melanjutkan penelitian bahaya kelautan atau ocean hazard. Salah satu fokusnya adalah pengembangan prototipe sistem pemantauan tsunami dengan biaya yang lebih terjangkau.
Teknologi tersebut dirancang untuk memantau perubahan muka laut secara real-time. Dengan pemantauan yang lebih baik, peneliti berharap sistem tersebut dapat mendukung penguatan peringatan dini tsunami di Indonesia.
Wiko menyebut timnya telah memulai inisiatif bersama peneliti bidang teknik untuk mengembangkan perangkat pemantauan tersebut. Upaya ini diharapkan dapat menghasilkan alat yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk memantau perubahan gelombang laut.
Meski demikian, pengembangan teknologi membutuhkan pengujian dan evaluasi sebelum penerapan lebih luas. Selain perangkat pemantauan, kesiapan jalur evakuasi dan pemahaman masyarakat juga memegang peranan penting dalam mengurangi risiko bencana.
Apa Arti Temuan Ini bagi Kesiapsiagaan Tsunami?
Kajian BRIN memperlihatkan bahwa penilaian ancaman tsunami perlu mempertimbangkan lebih dari satu mekanisme pembangkitan gelombang. Kombinasi gempa bumi dan kemungkinan pergerakan massa bawah laut dapat menghasilkan karakteristik tsunami yang berbeda dari perkiraan awal.
Karena itu, masyarakat pesisir perlu memahami bahwa waktu evakuasi setelah gempa kuat dapat sangat terbatas. Jika merasakan gempa kuat atau berlangsung lama di kawasan pantai, masyarakat sebaiknya segera menjauhi pantai dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu informasi tambahan.
Selain itu, masyarakat perlu mengenali jalur evakuasi dan mengikuti arahan resmi dari otoritas kebencanaan. Informasi peringatan dini tetap penting, tetapi masyarakat tidak seharusnya menunda evakuasi ketika merasakan tanda alam yang mengindikasikan ancaman tsunami.
Pada akhirnya, penelitian tsunami Pangandaran 2006 memberikan pelajaran penting bagi pengembangan mitigasi bencana di Indonesia. Namun, dugaan faktor nonseismik dalam kejadian tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penelitian lanjutan.
BRIN berharap pengembangan pemodelan dan teknologi pemantauan dapat memperkuat kesiapsiagaan nasional. Dengan dukungan riset, sistem peringatan dini, dan kesadaran masyarakat, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman tsunami di wilayah pesisir.




