Sabtu, 31 Oktober 2026Surat Kabar Informasi Terkini
SuratKami.com
Surat Kabar Informasi Terkini

Laba BRPT Anjlok 60,65% hingga Kuartal III 2026

Oleh Dwi Prakoso · Oktober 31, 2026 · 1:17 pm
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

SuratKami.com – Jakarta, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 60,65% secara tahunan hingga kuartal III 2026. Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$229 juta atau sekitar Rp4,15 triliun.

Pencapaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal III 2025, BRPT masih mencatatkan laba bersih sebesar US$582 juta. Dengan demikian, perusahaan mengalami penurunan keuntungan yang cukup besar meskipun pendapatan konsolidasi justru tumbuh.

Berdasarkan laporan kinerja yang disampaikan pada Jumat (30/10/2026), laba bersih konsolidasian BRPT mencapai US$616 juta atau sekitar Rp11,18 triliun. Angka tersebut turun 66,14% dibandingkan US$1,82 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, penurunan laba tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan aktivitas bisnis perusahaan. BRPT justru membukukan pertumbuhan pendapatan bersih konsolidasi sebesar 56,3% secara tahunan menjadi US$8,7 miliar hingga akhir September 2026.

Penyebab Laba BRPT Anjlok 60,65%

Presiden Direktur Barito Pacific, Agus Pangestu, menjelaskan bahwa perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan global. Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan sektor energi, ketidakpastian geopolitik, serta volatilitas pasar.

Dalam keterangannya pada Jumat (30/10/2026), Agus menyebut lingkungan bisnis global masih menghadirkan berbagai tekanan selama kuartal ketiga tahun ini. Situasi tersebut memengaruhi aktivitas dan kinerja sejumlah segmen usaha perusahaan.

Selain tantangan eksternal, terdapat faktor pembanding yang turut memengaruhi besarnya penurunan laba. BRPT mencatat keuntungan tidak berulang dari transaksi akuisisi Aster pada periode kuartal III 2025.

Keuntungan tersebut dikenal sebagai bargain purchase gain. Pengakuan keuntungan dari transaksi akuisisi itu membuat laba pada tahun sebelumnya berada pada tingkat yang sangat tinggi.

Akibatnya, perbandingan kinerja tahunan pada 2026 terlihat mengalami penurunan tajam. Agus menjelaskan bahwa tanpa memperhitungkan keuntungan tidak berulang tersebut, perusahaan tetap mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang kuat.

Pendapatan BRPT Justru Tumbuh 56,3%

Di tengah penurunan keuntungan, BRPT masih mampu meningkatkan pendapatan bersih konsolidasi menjadi US$8,7 miliar. Pertumbuhan sebesar 56,3% secara tahunan tersebut terutama berasal dari kontribusi entitas anak, Chandra Asri Group.

Chandra Asri Group menjalankan bisnis petrokimia dan menjadi salah satu kontributor penting bagi pendapatan konsolidasi Barito Pacific. Peningkatan pendapatan dari entitas tersebut membantu mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan secara keseluruhan.

Selain itu, segmen energi juga menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan bersih sektor energi mencapai US$501 juta hingga sembilan bulan pertama 2026, atau tumbuh 9,63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari peningkatan pendapatan segmen energi terbarukan. Perusahaan mencatat kenaikan pembangkitan listrik panas bumi setelah penambahan kapasitas melalui proyek retrofit.

Di sisi lain, output pembangkit listrik tenaga angin juga tetap stabil selama periode tersebut. Kombinasi kedua faktor itu membantu menopang pertumbuhan pendapatan bisnis energi BRPT.

Namun, tidak seluruh segmen bisnis mencatatkan pertumbuhan. Pendapatan bersih dari sektor lainnya justru turun 20% secara tahunan menjadi US$4 juta.

EBITDA BRPT Capai US$1,40 Miliar

Selain pendapatan, BRPT juga mencatatkan EBITDA sebesar US$1,40 miliar hingga kuartal III 2026. Capaian tersebut mendapat dukungan dari beberapa faktor operasional di berbagai lini bisnis perusahaan.

Salah satu penopangnya berasal dari margin pengolahan kilang yang solid. Selain itu, integrasi segmen ritel bahan bakar turut memberikan kontribusi terhadap kinerja operasional.

Perusahaan juga melanjutkan upaya efisiensi biaya pada segmen energi terbarukan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kinerja bisnis di tengah kondisi pasar global yang penuh tantangan.

Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan dan pencapaian EBITDA menunjukkan bahwa aktivitas operasional BRPT masih memiliki sejumlah penopang. Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan laba bersih dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Aset BRPT Tumbuh 12,82%

Dari sisi neraca keuangan, total aset Barito Pacific mencapai US$19,58 miliar hingga kuartal III 2026. Nilai tersebut meningkat 12,82% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, rasio utang bersih terhadap ekuitas atau net debt to equity tercatat sebesar 0,76 kali. Rasio tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat diperhatikan investor ketika menilai kondisi keuangan perusahaan.

Besarnya aset menunjukkan skala bisnis BRPT yang mencakup berbagai sektor, terutama petrokimia dan energi. Namun, pertumbuhan aset tidak selalu berjalan searah dengan peningkatan laba bersih.

Karena itu, investor perlu melihat beberapa indikator secara bersamaan. Pendapatan, EBITDA, laba bersih, serta rasio utang dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi perusahaan.

Apa Artinya bagi Investor Saham BRPT?

Penurunan laba BRPT menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu diperhatikan pemegang saham. Namun, investor sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa fundamental perusahaan mengalami pelemahan hanya berdasarkan penurunan laba bersih.

Salah satu hal penting ialah memahami pengaruh keuntungan akuisisi Aster pada periode pembanding. Faktor tidak berulang tersebut membuat perbandingan laba tahunan menjadi kurang mencerminkan perkembangan operasional secara keseluruhan.

Selain itu, pertumbuhan pendapatan sebesar 56,3% dan EBITDA sebesar US$1,40 miliar menunjukkan adanya aktivitas bisnis yang masih menghasilkan kontribusi positif. Akan tetapi, investor tetap perlu mencermati apakah pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan peningkatan laba yang berkelanjutan.

Berikut beberapa aspek yang dapat menjadi perhatian investor dalam mengevaluasi saham BRPT:

  • Perkembangan laba bersih: Perhatikan kemampuan perusahaan meningkatkan keuntungan setelah pengaruh keuntungan tidak berulang.
  • Kinerja Chandra Asri Group: Pantau kontribusi bisnis petrokimia terhadap pendapatan konsolidasi.
  • Pertumbuhan sektor energi: Perhatikan perkembangan bisnis panas bumi, pembangkit angin, dan segmen energi lainnya.
  • EBITDA dan efisiensi biaya: Evaluasi kemampuan perusahaan menjaga kinerja operasional.
  • Struktur keuangan: Amati perkembangan aset dan rasio utang bersih terhadap ekuitas.

Di sisi lain, kondisi geopolitik dan volatilitas pasar global masih menjadi risiko yang perlu investor perhitungkan. Perubahan kondisi energi dan industri petrokimia dapat memengaruhi pendapatan maupun margin perusahaan.

Pada akhirnya, laporan keuangan kuartal III 2026 memperlihatkan dua kondisi berbeda dalam kinerja Barito Pacific. Perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan konsolidasi, tetapi laba bersih mengalami penurunan tajam akibat sejumlah faktor, termasuk tingginya basis pembanding pada tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, investor perlu mencermati laporan keuangan berikutnya untuk melihat apakah BRPT mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan sekaligus memperbaiki profitabilitas. Perkembangan tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menilai prospek bisnis dan kinerja saham perusahaan.

Tag: ·

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)