Enam Saham Indonesia Dicoret dari MSCI pada Review Mei 2026

Dwi Prakoso

Enam Saham Indonesia Dicoret dari MSCI pada Review Mei 2026

Suratkami.com, Jakarta – Enam saham Indonesia dicoret dari MSCI dalam hasil review indeks Mei 2026. Keputusan ini menjadi sorotan pelaku pasar karena beberapa emiten besar harus keluar dari MSCI Global Standard Index.

Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan perubahan konstituen yang berlaku efektif pada akhir Mei 2026. Dalam pembaruan tersebut, enam saham Indonesia dicoret dari MSCI, termasuk dua saham yang sebelumnya telah diprediksi pasar.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) resmi keluar dari indeks. Kedua emiten itu sebelumnya masuk daftar saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Enam Saham Indonesia Dicoret dari MSCI

Selain DSSA dan BREN, MSCI juga menghapus empat saham lain dari indeks utama. Empat saham tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Khusus untuk AMRT, statusnya tidak sepenuhnya keluar dari daftar MSCI. Saham emiten pengelola jaringan minimarket Alfamart itu diturunkan kelas ke MSCI Small Cap Index.

Keputusan ini cukup mengejutkan. Sebab, sebelumnya pasar memperkirakan faktor HSC hanya akan berdampak pada beberapa saham tertentu. Namun, MSCI juga mempertimbangkan aspek lain dalam evaluasinya.

Selain itu, keputusan ini diperkirakan memengaruhi arus dana asing. Saham yang keluar dari MSCI umumnya berpotensi mengalami tekanan jual dari investor institusi global yang mengikuti indeks tersebut.

Faktor HSC dan Free Float Jadi Sorotan

MSCI menggunakan sejumlah indikator untuk menentukan kelayakan saham dalam indeks. Dua faktor utama yang menjadi perhatian dalam review kali ini adalah konsentrasi kepemilikan saham dan besaran free float.

High shareholding concentration menunjukkan sebagian besar saham dikuasai oleh pemegang saham tertentu. Kondisi ini membuat jumlah saham yang aktif diperdagangkan di pasar menjadi terbatas.

Sementara itu, free float adalah porsi saham yang tersedia untuk publik dan dapat diperdagangkan secara bebas. Semakin tinggi free float, semakin besar likuiditas saham tersebut.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah merilis data free float sejumlah emiten. Dalam daftar itu, beberapa saham yang dicoret belum memenuhi ambang batas minimal 15 persen.

TPIA Masih di Bawah Batas Minimum

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat memiliki free float sebesar 10,5 persen. Angka ini masih jauh di bawah ketentuan minimum yang menjadi salah satu acuan MSCI.

Di sisi lain, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memiliki free float sebesar 26,7 persen. Karena itu, BRPT tetap bertahan di MSCI Global Standard Index meskipun berada dalam grup usaha yang sama.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa free float menjadi faktor penting. Emiten dengan kapitalisasi besar belum tentu bertahan jika jumlah saham publik masih terbatas.

Dampak bagi Investor dan Pergerakan Saham

Pencoretan enam saham Indonesia dicoret dari MSCI dapat memicu volatilitas jangka pendek. Investor asing pasif biasanya menyesuaikan portofolio sesuai komposisi indeks terbaru.

Akibatnya, saham yang dikeluarkan berpotensi mengalami tekanan jual. Namun, dampak tersebut umumnya bersifat sementara dan akan bergantung pada sentimen pasar secara keseluruhan.

Sementara itu, investor domestik cenderung mencermati fundamental perusahaan. Jika kinerja emiten tetap kuat, harga saham dapat kembali stabil setelah proses rebalancing selesai.

Bagi investor ritel, perubahan indeks MSCI menjadi indikator penting. Namun, keputusan investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan, prospek bisnis, dan valuasi saham.

Review MSCI Jadi Penentu Arus Modal Asing

MSCI merupakan salah satu acuan utama bagi manajer investasi global. Perubahan konstituen indeks dapat memengaruhi keputusan investasi triliunan dolar di berbagai pasar, termasuk Indonesia.

Karena itu, hasil review Mei 2026 menjadi perhatian besar di Bursa Efek Indonesia. Enam saham Indonesia dicoret dari MSCI menunjukkan bahwa likuiditas dan distribusi kepemilikan saham semakin menentukan posisi emiten di indeks global.

Ke depan, emiten dengan free float lebih besar dan struktur kepemilikan yang lebih tersebar memiliki peluang lebih baik untuk tetap masuk dalam indeks MSCI. Kondisi ini sekaligus menjadi dorongan bagi perusahaan untuk meningkatkan porsi saham publik demi menarik minat investor internasional.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral SeaBank Mei 2026, Bonus Rp10.000 untuk Pengguna Baru

Kode Referral SeaBank Mei 2026, Bonus Rp10.000 untuk Pengguna Baru

Kunjungi Artikel