Google Target Back Button Hijacking, Ranking Situs Bisa Turun

Japur SK

Suratkami.com, Jakarta – Google kembali memperketat aturan untuk menjaga kualitas pengalaman pengguna di mesin pencarinya. Kali ini, perusahaan tersebut menargetkan praktik yang dikenal sebagai back button hijacking, yaitu manipulasi tombol kembali atau back pada browser agar pengguna tidak bisa kembali ke halaman sebelumnya secara normal.

Praktik back button hijacking selama ini cukup sering ditemukan di sejumlah situs dengan kualitas rendah. Biasanya, teknik tersebut digunakan untuk memaksa pengguna membuka halaman iklan, spam, hingga tautan afiliasi ketika tombol kembali ditekan.

Google menilai metode ini sangat merugikan pengguna karena membuat navigasi menjadi tidak wajar. Selain mengganggu kenyamanan, teknik tersebut juga dinilai menipu pengguna yang ingin kembali ke hasil pencarian atau halaman sebelumnya.

Google Anggap Back Button Hijacking Sebagai Pelanggaran Serius

Back button hijacking adalah teknik manipulasi riwayat browser menggunakan JavaScript. Dengan metode ini, situs dapat menambahkan riwayat palsu sehingga ketika pengguna menekan tombol kembali, browser justru diarahkan ke halaman lain.

Biasanya, halaman tujuan tersebut berisi spam, iklan berlebihan, pop-up, atau link afiliasi yang dipasang secara agresif. Tidak sedikit pula situs yang memanfaatkan cara ini untuk meningkatkan trafik secara paksa demi kepentingan monetisasi.

Google menilai praktik seperti ini merusak pengalaman pengguna karena mempersulit proses keluar dari situs. Pengguna yang ingin kembali ke halaman hasil pencarian justru dipaksa melihat halaman tambahan yang tidak relevan.

Selain dianggap mengganggu, manipulasi tombol back browser juga dinilai sebagai bentuk penyalahgunaan JavaScript dan navigasi browser. Karena itu, Google kini memasukkan praktik tersebut sebagai pelanggaran yang dapat berdampak pada performa situs di hasil pencarian.

Deadline Sampai Juni 2026

Google memberikan tenggat waktu hingga 15 Juni 2026 bagi pemilik website untuk menghentikan praktik back button hijacking. Setelah batas waktu tersebut, Google disebut akan mulai memberikan sanksi bagi situs yang masih menggunakan metode manipulasi tombol kembali.

Sanksi yang diberikan tidak main-main. Situs yang tetap menerapkan teknik tersebut berpotensi mengalami penurunan ranking di hasil pencarian Google Search. Dalam kasus yang lebih parah, visibilitas situs bahkan bisa hilang dari halaman pencarian.

Langkah ini menunjukkan bahwa Google semakin serius dalam memerangi teknik manipulatif yang merugikan pengguna. Dalam beberapa tahun terakhir, Google memang terus memperbarui algoritma dan kebijakan pencarian untuk mengurangi spam, iklan berlebihan, dan pengalaman browsing yang buruk.

Pemilik Website Diminta Audit Script JavaScript

Google juga meminta pemilik website untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap script JavaScript yang digunakan di situs mereka. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada kode buatan sendiri, tetapi juga pada script dari pihak ketiga.

Beberapa script dari jaringan iklan, plugin, hingga library tambahan terkadang bisa memicu perilaku manipulatif tanpa disadari pemilik website. Karena itu, developer disarankan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh kode yang berjalan di halaman website.

Berikut beberapa hal yang perlu diperiksa oleh pemilik situs:

  • Script JavaScript yang menambahkan riwayat browser palsu
  • Kode yang memaksa redirect saat tombol back ditekan
  • Plugin iklan yang membuka halaman tambahan secara otomatis
  • Library pihak ketiga yang memanipulasi navigasi browser
  • Pop-up berlebihan yang muncul ketika pengguna ingin meninggalkan halaman

Jika ditemukan script semacam itu, pemilik situs sebaiknya segera menghapus atau menggantinya dengan metode yang lebih ramah pengguna.

Dampak Positif untuk Pengguna dan Developer

Bagi pengguna internet, kebijakan baru Google ini jelas menjadi kabar baik. Dengan adanya penindakan terhadap back button hijacking, pengguna bisa mendapatkan pengalaman browsing yang lebih nyaman dan aman.

Pengguna tidak lagi dipaksa membuka halaman iklan tambahan ketika ingin kembali ke hasil pencarian. Selain itu, risiko masuk ke situs spam atau halaman afiliasi yang menyesatkan juga bisa berkurang.

Sementara itu, bagi developer dan pemilik website, aturan ini menjadi pengingat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan script dan plugin pihak ketiga. Teknik manipulasi navigasi yang sebelumnya dianggap bisa meningkatkan trafik kini justru berpotensi merugikan situs itu sendiri.

Google tampaknya ingin memastikan bahwa setiap website memberikan pengalaman pengguna yang normal, cepat, dan transparan. Dengan demikian, situs yang mengutamakan kualitas konten dan navigasi yang baik akan lebih mudah mendapatkan posisi tinggi di hasil pencarian.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Flip Agustus 2026, Dapat Hadiah Rp40.000

Kode Referral Flip Agustus 2026, Dapat Hadiah Rp40.000

Kunjungi Artikel