Laba MBMA Semester I-2026 Melonjak Jadi USD54 Juta, Naik 800 Persen

Dwi Prakoso

Laba MBMA Semester I-2026 Melonjak Jadi USD54 Juta, Naik 800 Persen
Ilustrasi: laba MBMA semester I-2026

Suratkami.com – Jakarta, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat laba MBMA semester I-2026 sebesar USD54 juta atau sekitar Rp835 miliar. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan USD6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba itu berjalan seiring dengan peningkatan produksi dan penjualan bijih nikel. Selain itu, kinerja pengolahan nikel juga semakin kuat sepanjang enam bulan pertama 2026.

MBMA mencatat pendapatan sebesar USD1,05 miliar pada semester I-2026. Nilai tersebut tumbuh 67 persen secara tahunan. Sementara itu, EBITDA perseroan melonjak 306 persen menjadi USD311 juta.

Laba MBMA Semester I-2026 Ditopang Bisnis Nikel

Kinerja MBMA terutama mendapat dukungan dari bisnis bijih nikel, Nickel Pig Iron (NPI), dan High-Grade Nickel Matte (HGNM). Kenaikan volume penjualan turut memperkuat kontribusi ketiga lini bisnis tersebut.

Selain volume, penerapan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel juga mendukung kinerja perseroan. Kemudian, penjualan asam dari operasi Acid, Iron, Metal (AIM) PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) memberikan tambahan pendapatan.

Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk Teddy Oetomo mengatakan, kinerja semester I-2026 mencerminkan penguatan eksekusi di seluruh operasi nikel terintegrasi MBMA.

“Kinerja semester I-2026 mencerminkan penguatan eksekusi di seluruh operasi nikel terintegrasi MBMA. Peningkatan volume penambangan dan kinerja pengolahan yang lebih baik telah mendorong peningkatan laba secara signifikan. Kami akan menjaga momentum ini melalui disiplin operasional, peningkatan efisiensi secara berkelanjutan, serta eksekusi proyek-proyek pertumbuhan untuk semakin memperkuat posisi MBMA dalam rantai nilai nikel dan material baterai,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, Sabtu (26/9/2026).

Produksi Bijih Nikel MBMA Naik 121 Persen

Dari sisi operasional, MBMA memproduksi 15,2 juta wet metric tonnes (wmt) bijih nikel pada semester I-2026. Volume tersebut meningkat 121 persen dibandingkan 6,9 juta wmt pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi tersebut mendapat dukungan dari utilisasi peralatan yang lebih tinggi. Selain itu, MBMA meningkatkan efisiensi pengangkutan dan produktivitas pada area tambang utama.

Penjualan bijih nikel juga tumbuh 60 persen menjadi 12,4 juta wmt. Volume tersebut terdiri atas 8,2 juta wmt limonit dan 4,2 juta wmt saprolit.

Sementara itu, lini pengolahan mencatat perkembangan positif. Produksi dan penjualan NPI meningkat 20 persen secara tahunan. Operasi tungku yang lebih stabil mendukung pertumbuhan tersebut setelah perseroan menyelesaikan kegiatan pemeliharaan pada 2025.

Produksi HGNM juga meningkat lebih dari dua kali lipat. Pertumbuhan produksi tersebut kemudian diikuti peningkatan volume penjualan. Dengan demikian, bisnis pengolahan nikel memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap kinerja MBMA.

MBMA Perkuat Bisnis Material Baterai

Selain pertambangan dan pengolahan nikel, MBMA terus mengembangkan bisnis material baterai. PT ESG New Energy Material meningkatkan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) setelah menyelesaikan kegiatan pemeliharaan.

Perusahaan tersebut juga beralih ke area penyimpanan tailing yang baru. Langkah tersebut mendukung kelanjutan kegiatan produksi MHP dalam ekosistem material baterai MBMA.

Di sisi lain, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) masih melanjutkan tahap commissioning. Kegiatan tersebut mencakup pengaktifan sistem kelistrikan, pengangkutan bijih, serta uji coba awal pengumpanan bijih.

MBMA memperkirakan produksi SLNC mulai berjalan pada semester II-2026. Setelah itu, perseroan akan meningkatkan produksinya secara bertahap menuju operasi penuh pada akhir tahun.

Produksi HPAL Berpotensi Tambah Kontribusi

Peningkatan produksi dari operasi High-Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis material baterai MBMA. Operasi tersebut diharapkan memperbesar kontribusi produk antara material baterai terhadap pendapatan perseroan.

Kontribusi dari bisnis material baterai akan melengkapi pendapatan MBMA dari kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel. Karena itu, perkembangan proyek HPAL menjadi salah satu bagian dari ekspansi bisnis perseroan sepanjang 2026.

Sementara itu, perkembangan produksi SLNC juga menjadi perhatian dalam penguatan rantai bisnis material baterai. Perseroan menargetkan peningkatan produksi secara bertahap setelah tahap commissioning berjalan.

Dengan perkembangan tersebut, MBMA menjalankan bisnis yang mencakup pertambangan bijih nikel hingga pengolahan dan material baterai. Struktur bisnis itu menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat posisi dalam rantai nilai nikel dan material baterai.

MBMA Tetap Waspadai Perubahan Biaya

Meski kinerja semester I-2026 meningkat tajam, MBMA tetap mencermati risiko perubahan biaya. Pergerakan harga dan konsumsi bahan bakar menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian perseroan.

Karena itu, MBMA menyatakan akan mempertahankan disiplin biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Perseroan juga tetap menjaga panduan kinerja sepanjang 2026.

Secara keseluruhan, kinerja enam bulan pertama 2026 menunjukkan peningkatan pada sejumlah lini usaha MBMA. Pertumbuhan produksi bijih nikel, penjualan, pengolahan NPI dan HGNM, serta perkembangan material baterai turut mendukung pencapaian tersebut.

Dengan demikian, laba MBMA semester I-2026 mencapai USD54 juta atau sekitar Rp835 miliar. Perseroan selanjutnya akan melanjutkan pengembangan operasi dan proyek material baterai sambil menjaga efisiensi serta disiplin biaya hingga akhir 2026.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Cara Dapat Cashback Rp50 Ribu dari Referral Honest Card

Cara Dapat Cashback Rp50 Ribu dari Referral Honest Card

Kunjungi Artikel