Megalestari Epack (EPAC) Siapkan Buyback dan Rights Issue

Dwi Prakoso

Megalestari Epack (EPAC) Siapkan Buyback dan Rights Issue
Megalestari Epack (EPAC) Siapkan Buyback dan Rights Issue

SuratKami.com – Jakarta, PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) menyiapkan langkah penyehatan keuangan melalui penghentian fasilitas produksi konvensional MES dan penguatan bisnis kemasan fleksibel berbasis digital. Selain itu, perseroan menyiapkan rencana buyback saham dan rights issue untuk mendukung pengembangan usaha.

Manajemen EPAC berencana menghentikan operasional fasilitas produksi konvensional MES paling lambat 31 Desember 2026. Setelah itu, perseroan akan memusatkan kegiatan kemasan fleksibel melalui PT Epac Flexibles Indonesia (EFI).

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi beban produksi konvensional. Pada saat yang sama, EPAC ingin memperbesar kapasitas bisnis kemasan digital. Perseroan juga menyiapkan fasilitas produksi digital baru di Surabaya pada 2027.

EPAC Fokus pada Bisnis Kemasan Digital

EPAC akan menghentikan operasional fasilitas MES, tetapi kegiatan usaha grup tetap berjalan. EFI akan menjadi salah satu pusat pengembangan bisnis kemasan fleksibel berbasis digital. Saat ini, perseroan telah memiliki fasilitas digital di Tangerang.

Kemudian, EPAC berencana membangun fasilitas digital baru di Surabaya pada 2027. Ekspansi tersebut bertujuan memperluas kapasitas dan jangkauan layanan kepada pelanggan.

Manajemen menargetkan pertumbuhan penjualan tahunan sekitar 15% hingga 2028. Berdasarkan proyeksi setelah memperhitungkan penghentian operasional MES dan ekspansi digital, penjualan EPAC diproyeksikan mencapai Rp 197 miliar pada 2027.

Selanjutnya, perseroan memproyeksikan penjualan mencapai Rp 304,92 miliar pada 2030. Proyeksi tersebut mencerminkan target pertumbuhan bisnis setelah perusahaan mengubah fokus operasionalnya.

Kinerja EPAC Diproyeksikan Membaik

Perubahan strategi juga berdampak pada proyeksi laba perusahaan. EPAC menyampaikan simulasi proforma hingga kuartal II 2026 sebagai gambaran apabila perusahaan menghentikan operasional MES sejak awal tahun.

Dalam simulasi tersebut, rugi bersih konsolidasi sekitar Rp 2,8 miliar berubah menjadi laba bersih sekitar Rp 1,7 miliar. Sementara itu, laba per saham berada di sekitar Rp 0,51.

Namun, EPAC menegaskan bahwa angka tersebut merupakan simulasi proforma. Angka itu bukan perubahan terhadap hasil aktual yang sudah perusahaan laporkan.

Untuk periode 2027 hingga 2030, EPAC memproyeksikan laba bersih meningkat dari Rp 14,179 miliar menjadi Rp 42,263 miliar. Meski demikian, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada realisasi ekspansi, permintaan pelanggan, biaya produksi, pendanaan, dan kondisi usaha.

Selain itu, perseroan telah mengungkapkan estimasi nilai wajar saham EPAC sebesar Rp 163 per saham. Perusahaan menghitung estimasi tersebut menggunakan kombinasi metode Discounted Cash Flow dan Multiple EBITDA.

Estimasi Rp 163 per saham memperhitungkan penghentian operasional MES serta rencana ekspansi bisnis digital. Karena itu, angka tersebut merupakan estimasi berbasis proyeksi dan bukan harga pasar atau jaminan nilai saham pada masa mendatang.

EPAC Siapkan Rights Issue 2 Miliar Saham

Selain perubahan strategi bisnis, EPAC juga menyiapkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I atau PMHMETD I. Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB.

EPAC menjadwalkan RUPSLB pada 3 November 2026. Sebelumnya, perseroan telah menyampaikan pengumuman RUPSLB dan keterbukaan informasi terkait rencana rights issue serta buyback pada 25 September 2026.

Melalui rights issue tersebut, EPAC berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 2.000.000.000 saham baru. Perseroan akan mengarahkan dana hasil penerbitan, setelah memperhitungkan biaya emisi, untuk beberapa kebutuhan utama.

  • Belanja modal untuk pengembangan usaha yang sesuai dengan kegiatan perseroan.
  • Pengurangan sebagian utang, terutama utang bank.
  • Penguatan modal kerja.

Namun, EPAC belum menetapkan harga pelaksanaan, rasio HMETD, maupun jumlah dana yang akan diperoleh. Perseroan akan menyampaikan rincian tersebut melalui prospektus.

EPAC Rencanakan Buyback Saham Rp 20 Miliar

Di sisi lain, EPAC juga meminta persetujuan pemegang saham untuk menjalankan program pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan merencanakan buyback maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pada tanggal RUPSLB.

EPAC menyiapkan anggaran maksimal Rp 20 miliar untuk program tersebut. Anggaran itu sudah mencakup biaya transaksi. Perseroan berencana menjalankan buyback secara bertahap dalam waktu paling lama 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB.

Pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan ketersediaan dana, kebutuhan operasional, dan kondisi perusahaan. Karena itu, rencana tersebut belum otomatis berarti perseroan akan membeli seluruh saham sesuai batas maksimal yang telah disiapkan.

Sementara itu, kedua aksi korporasi tersebut masih berada pada tahap rencana. Rights issue membutuhkan persetujuan RUPSLB dan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan. Selanjutnya, pelaksanaan buyback juga bergantung pada persetujuan serta pertimbangan perseroan selama periode pelaksanaan.

Dengan demikian, investor perlu mencermati perkembangan RUPSLB pada November 2026. Selain itu, investor juga perlu memperhatikan prospektus rights issue, penggunaan dana, realisasi ekspansi Surabaya, serta perkembangan kinerja setelah penghentian fasilitas MES.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Nanovest Terbaru Oktober 2026: Peluang Cuan dari Investasi Digital

Kode Referral Nanovest Terbaru Oktober 2026: Peluang Cuan dari Investasi Digital

Kunjungi Artikel