Suratkami.com – Jakarta, penutupan Bandara Radin Inten II di Lampung setelah erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebagian penumpang tujuan Jakarta beralih menggunakan kapal laut.
Bandar Udara Radin Inten II ditutup setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat. Kondisi tersebut berdampak terhadap perjalanan udara dari Lampung, terutama bagi penumpang yang memiliki tujuan ke Jakarta.
Sebagian penumpang kemudian memilih jalur darat menuju Pelabuhan Bakauheni untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal penyeberangan ke Merak. Peralihan moda transportasi ini berlangsung ketika aktivitas vulkanik masih menjadi perhatian.
Penutupan Bandara Radin Inten II akibat aktivitas vulkanik
Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat menjadi level III atau siaga sejak 5 September 2026. Gunung yang berada di perairan Selat Sunda tersebut melontarkan material vulkanik dan memberikan dampak terhadap area di sekitarnya.
Dampak erupsi tersebut turut memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Radin Inten II. Penutupan bandara membuat penumpang perlu mencari pilihan perjalanan lain, termasuk menggunakan jalur darat dan laut.
Berdasarkan pantauan pada Senin, 7 September 2026, arus kendaraan di Tol Trans Sumatra yang mengarah ke Bakauheni terlihat cukup ramai dibandingkan biasanya. Namun, lalu lintas tetap berjalan lancar.
Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Bakauheni
Perjalanan dari Bandar Lampung menuju pelabuhan memerlukan waktu sekitar 1,5 jam. Kendaraan dapat melaju menuju Bakauheni tanpa terlihat hambatan berarti di sepanjang jalur yang dipantau.
Setibanya di pelabuhan, kondisi juga tidak menunjukkan kepadatan. Meski demikian, petugas setempat menyampaikan bahwa aktivitas penyeberangan menuju Merak meningkat akibat dihentikannya penerbangan dari Lampung.
Peningkatan tersebut terutama terlihat pada penumpang yang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka memilih membawa kendaraan menuju pelabuhan sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Pulau Jawa.
Sejumlah kapal tersedia di dermaga
Beberapa kapal terlihat tersedia di dermaga Pelabuhan Bakauheni. Penumpang tidak membutuhkan waktu lama sejak memasuki area pelabuhan hingga naik ke kapal.
Situasi ini menunjukkan bahwa perpindahan penumpang dari jalur udara ke jalur laut masih dapat berlangsung tanpa antrean panjang di area pelabuhan. Kendati jumlah pengguna penyeberangan meningkat, aktivitas di lokasi tetap berjalan lancar.
Penumpang juga tidak memperlihatkan kepanikan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau. Mereka tetap menjalani proses perjalanan dengan tertib sambil memperhatikan kondisi di sekitar.
Penumpang menggunakan masker
Hampir seluruh penumpang, mulai dari orang tua hingga anak-anak, terlihat menggunakan masker. Masker dipakai untuk mengantisipasi kemungkinan terhirupnya abu vulkanik selama perjalanan.
Penggunaan masker menjadi salah satu perhatian penumpang ketika aktivitas gunung api meningkat. Selain itu, perpindahan perjalanan melalui jalur laut membuat penumpang tetap dapat melanjutkan tujuan menuju Jakarta meski penerbangan dihentikan.
Dengan kondisi lalu lintas yang masih lancar dan kapal yang tersedia, Pelabuhan Bakauheni menjadi jalur alternatif bagi penumpang dari Lampung. Aktivitas penyeberangan menuju Merak pun meningkat, khususnya setelah penutupan Bandara Radin Inten II.










