Stock Split DSSA Resmi, Saham Melonjak Hampir 9 Persen

Dwi Prakoso

Suratkami.com, Jakarta – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melonjak tajam usai resmi melakukan stock split dengan rasio 1:25 pada perdagangan Kamis (9/4/2026).

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat kenaikan signifikan setelah pelaksanaan stock split DSSA yang mulai efektif pada Kamis (9/4/2026). Aksi korporasi ini langsung mendapat respons positif dari pelaku pasar.

Pada perdagangan pagi, saham DSSA melesat hingga 8,96 persen ke level Rp2.920 per saham. Lonjakan harga ini terjadi seiring meningkatnya minat beli investor setelah harga saham menjadi lebih terjangkau.

Stock split atau pemecahan nilai nominal saham DSSA menjadi katalis penting yang mendorong likuiditas. Dengan harga yang lebih rendah, saham ini dinilai semakin ramah bagi investor ritel.

Saham DSSA Melonjak Usai Stock Split

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.13 WIB, nilai transaksi saham DSSA mencapai Rp74,85 miliar dengan volume perdagangan sebesar 26,99 juta saham. Aktivitas ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Sebelumnya, DSSA melakukan stock split dengan rasio 1:25, di mana satu saham lama dipecah menjadi 25 saham baru. Cum date aksi korporasi ini berlangsung pada Rabu (8/4/2026).

Setelah pemecahan saham, BEI melakukan penyesuaian harga teoretis DSSA menjadi Rp2.680 per saham. Harga ini menjadi acuan dalam perdagangan di pasar reguler maupun negosiasi.

Penyesuaian tersebut dilakukan sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang perdagangan efek bersifat ekuitas. Selain itu, perubahan juga mencakup jumlah saham dan parameter dalam sistem Jakarta Automated Trading System (JATS).

Dampak Stock Split terhadap Likuiditas

Pelaksanaan stock split DSSA diharapkan mampu meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Dengan harga nominal yang lebih kecil, investor memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke saham ini.

Sebelum stock split, harga saham DSSA berada di level Rp67.000 per saham dengan nilai nominal Rp25. Setelah aksi korporasi, nilai nominal berubah menjadi Rp1 per saham.

Harga teoretis Rp2.680 kemudian menjadi dasar dalam proses tawar-menawar serta perhitungan indeks saham individual DSSA. Hal ini penting untuk menjaga transparansi dan stabilitas perdagangan.

Selain itu, peningkatan jumlah saham beredar diharapkan memperluas basis investor. Kondisi ini dapat menciptakan pergerakan harga yang lebih dinamis dan sehat.

Sorotan HSC dan Risiko dari MSCI

Di tengah sentimen positif stock split DSSA, saham ini juga tengah menjadi perhatian setelah masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) yang dirilis BEI pada 2 April 2026.

DSSA tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan mencapai 95,76 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar saham dikuasai oleh pihak tertentu, sehingga free float relatif kecil.

Selain DSSA, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga masuk daftar dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 97,31 persen. Kedua saham ini merupakan bagian dari indeks MSCI Indonesia Global Standard.

Tingginya konsentrasi kepemilikan memunculkan kekhawatiran terkait potensi dikeluarkannya saham dari indeks MSCI. Jika hal ini terjadi, maka berpotensi memicu arus dana keluar dari investor global.

Potensi Outflow dan Tekanan Pasar

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menyebutkan bahwa potensi arus keluar dana (outflow) dari saham DSSA dan BREN bisa mencapai Rp7 triliun hingga Rp8 triliun.

Dana tersebut umumnya berasal dari investor institusi global yang mengikuti indeks MSCI. Jika DSSA keluar dari indeks, maka tekanan jual diperkirakan meningkat signifikan.

Menurutnya, kebijakan terkait High Shareholding Concentration bukan hal baru. Bursa Hong Kong sebelumnya juga pernah menerapkan kebijakan serupa sebagai respons terhadap evaluasi MSCI.

Langkah BEI ini dinilai sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar serta menjaga kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

Kesimpulan

Stock split DSSA terbukti memberikan sentimen positif dalam jangka pendek dengan lonjakan harga hampir 9 persen. Aksi korporasi ini berhasil meningkatkan daya tarik saham di mata investor, terutama dari sisi likuiditas.

Namun, di sisi lain, risiko terkait konsentrasi kepemilikan dan potensi keluarnya dari indeks MSCI tetap menjadi perhatian. Investor perlu mencermati kedua faktor ini sebelum mengambil keputusan investasi.

FAQ

1. Apa itu stock split DSSA?
Stock split DSSA adalah pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:25 untuk meningkatkan likuiditas dan keterjangkauan harga.

2. Mengapa saham DSSA naik setelah stock split?
Karena harga saham menjadi lebih murah sehingga menarik minat beli investor.

3. Apa dampak stock split bagi investor?
Investor mendapatkan jumlah saham lebih banyak dengan nilai investasi yang sama, serta peluang likuiditas lebih tinggi.

4. Apa itu High Shareholding Concentration (HSC)?
HSC adalah kondisi di mana sebagian besar saham dikuasai oleh pihak tertentu sehingga free float rendah.

5. Apakah DSSA berisiko keluar dari MSCI?
Ada potensi, terutama karena tingginya konsentrasi kepemilikan yang menjadi perhatian MSCI.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Akulaku Mei 2026, SAL47Q: Cara Dapat Pinjaman Cepat dan Bonus hingga Ratusan Ribu

Kode Referral Akulaku Mei 2026, SAL47Q: Cara Dapat Pinjaman Cepat dan Bonus hingga Ratusan Ribu

Kunjungi Artikel