Suratkami.com – Jakarta, PT Astra International Tbk (ASII) menyiapkan strategi bisnis non-inti ASII melalui tiga pendekatan, yakni investasi, kemitraan, dan realokasi modal. Astra menerapkan pendekatan tersebut untuk mengelola bisnis dalam kelompok wider businesses.
Head of Corporate Investor Relations Astra, Tira Ardianti, mengatakan Astra mempertimbangkan beberapa aspek dalam menentukan pendekatan untuk setiap bisnis. Aspek tersebut mencakup potensi pertumbuhan, kesesuaian dengan ekosistem Astra, serta kebutuhan penguatan kapabilitas.
Tira menyampaikan strategi tersebut dalam acara Astra Media Day pada Rabu (23/9/2026). Menurut dia, Astra kini memiliki pendekatan yang lebih terarah dalam mengalokasikan modal dan mengevaluasi bisnis yang masuk dalam kelompok wider businesses.
Tiga Strategi Bisnis Non-Inti ASII
Astra membagi pendekatan terhadap wider businesses ke dalam tiga pilihan utama. Pertama, Astra dapat melakukan investasi pada bisnis yang memiliki kesesuaian strategis dengan ekosistem perseroan.
Kedua, Astra membuka peluang kemitraan untuk bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan. Kemitraan tersebut juga dapat membantu bisnis memperkuat kapabilitas agar mampu mengembangkan usahanya.
Ketiga, Astra mempertimbangkan realokasi modal untuk bisnis yang tidak menunjukkan potensi pertumbuhan yang lebih baik. Dengan pendekatan ini, perseroan dapat mengarahkan modal ke bisnis yang dinilai memiliki kebutuhan dan peluang pengembangan yang lebih sesuai.
Tira menjelaskan, “Pendekatan kami terhadap wider businesses ini adalah kami akan melakukan pendekatan tiga hal, satu invest, kedua partner, yang ketiga capital allocation.”
Investasi dan Kemitraan Sesuai Potensi Bisnis
Untuk pilihan investasi, Astra akan melihat kesesuaian strategis atau strategic fit dengan ekosistem yang sudah dimiliki. Selain itu, Astra mempertimbangkan kemampuan bisnis tersebut dalam memberikan nilai bagi perseroan.
Sementara itu, Astra dapat memilih kemitraan ketika sebuah bisnis memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Pendekatan tersebut juga berlaku ketika bisnis membutuhkan tambahan kapabilitas untuk mendukung pengembangannya.
Tira mengatakan, “Kemudian untuk bisnis-bisnis yang kita rasa akan bisa terus bertumbuh ke depannya, ada potensi pertumbuhan yang baik dan kita perlukan untuk memperkuat kapabilitasnya, kita bisa berpartner.”
Dengan demikian, Astra tidak menggunakan satu pendekatan untuk seluruh bisnis dalam kelompok wider businesses. Perseroan menyesuaikan strategi berdasarkan karakteristik dan potensi masing-masing bisnis.
Realokasi Modal Jadi Pilihan untuk Bisnis Tertentu
Di sisi lain, Astra mempertimbangkan realokasi modal untuk bisnis yang tidak menunjukkan potensi pertumbuhan yang lebih baik. Langkah tersebut menjadi salah satu pilihan dalam mengoptimalkan penggunaan modal perseroan.
Tira menuturkan, “Dan suatu bisnis kami lihat tidak ada potensi pertumbuhan yang lebih baik, menurut kami realokasi modal bisa menjadi salah satu (pilihan).”
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Astra mengevaluasi kembali penggunaan modal pada bisnis non-inti. Karena itu, keputusan terhadap setiap bisnis dapat mengikuti perkembangan potensi pertumbuhan dan kebutuhan penguatan kapabilitasnya.
Tira menambahkan bahwa Astra ingin menjalankan pendekatan yang menghasilkan bisnis lebih berkualitas. Selain itu, perseroan ingin mengoptimalkan alokasi modal untuk memperkuat kapabilitas.
ASII Tetap Fokus pada Tiga Bisnis Utama
Meskipun Astra menata wider businesses, perseroan tetap mempertahankan fokus pada tiga bisnis utama. Ketiganya mencakup otomotif, jasa keuangan, serta mining solutions and equipment.
Ketiga segmen tersebut berkontribusi sekitar 90 persen terhadap pendapatan konsolidasi Astra. Astra juga masih melihat peluang pertumbuhan pada ketiga bisnis utama tersebut.
Tira mengatakan, “Pada tiga bisnis ini kami masih melihat banyak peluang pertumbuhan ke depan, dan kami akan terus memperkuatnya, akan terus mempertahankan fokus strategi kita kepada tiga bisnis ini, sambil kemudian kami sudah memilih platform yang lebih jelas juga terhadap wider businesses.”
Oleh karena itu, strategi Astra berjalan melalui dua arah. Perseroan tetap memperkuat bisnis utama, sementara itu Astra menata wider businesses melalui pendekatan yang lebih terarah.
Ekosistem Otomotif Jadi Salah Satu Kekuatan Astra
Pada sektor otomotif, Astra akan mengoptimalkan ekosistem yang telah dibangun selama puluhan tahun. Ekosistem tersebut mencakup manufaktur, distribusi, penjualan ritel, pembiayaan, asuransi, layanan purnajual, hingga kendaraan bekas.
Rangkaian bisnis tersebut memberikan Astra cakupan yang luas dalam industri otomotif. Selain itu, perseroan dapat memanfaatkan berbagai bagian dalam ekosistem tersebut untuk mempertahankan fokus pada bisnis utamanya.
Sementara itu, sektor jasa keuangan Astra mencakup pembiayaan konsumen, pembiayaan alat berat, layanan digital, fintech, asuransi umum, hingga asuransi jiwa. Bisnis tersebut memiliki basis pelanggan yang luas dan jaringan pembiayaan nasional.
Astra juga memiliki kemampuan analisis kredit dan penagihan dalam mendukung bisnis jasa keuangannya. Dengan demikian, segmen ini tetap menjadi bagian dari tiga bisnis utama yang menjadi fokus perseroan.
United Tractors Dukung Bisnis Alat Berat dan Pertambangan
Adapun pada bisnis heavy equipment and mining solutions, Astra mengandalkan PT United Tractors Tbk (UNTR). Perusahaan tersebut memiliki rantai bisnis terintegrasi dalam sektor alat berat dan pertambangan.
Rantai bisnis United Tractors mencakup distribusi alat berat hingga kontraktor pertambangan. Selain itu, perusahaan juga memiliki bisnis pertambangan dengan komoditas emas dan nikel.
Struktur bisnis tersebut memperkuat posisi segmen alat berat dan solusi pertambangan dalam ekosistem Astra. Karena itu, Astra tetap memasukkan sektor tersebut sebagai salah satu dari tiga bisnis utama yang menjadi fokus strategi perseroan.
Secara keseluruhan, Astra menempatkan strategi bisnis non-inti ASII dalam kerangka investasi, kemitraan, dan realokasi modal. Sementara itu, perseroan tetap menjaga fokus pada otomotif, jasa keuangan, serta mining solutions and equipment sebagai tiga bisnis utama.
Dengan pendekatan tersebut, Astra ingin mengoptimalkan alokasi modal sekaligus memperkuat kapabilitas bisnis. Evaluasi terhadap wider businesses akan mempertimbangkan potensi pertumbuhan dan kesesuaian strategis masing-masing bisnis.








