Daftar Isi 5 bagian
SuratKami.com – Indonesia, sebanyak 95 persen organisasi di Indonesia mengalami insiden siber berdampak signifikan yang mengganggu operasional bisnis selama 12 bulan terakhir. Lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang memanfaatkan atau diperkuat teknologi kecerdasan buatan (AI). Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI turut mengubah lanskap ancaman keamanan digital.
Laporan Relentless Defense Report yang dirilis Cisco mengungkapkan bahwa organisasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam melindungi sistem dan data mereka. Selain meningkatkan kemampuan penyerang, AI juga mempercepat perkembangan ancaman siber sehingga tim keamanan harus merespons dengan lebih sigap.
Namun, persoalan keamanan siber tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi perlindungan. Cisco menilai, koordinasi antar-tim, pengelolaan data, serta proses pengambilan keputusan turut menentukan keberhasilan organisasi dalam menghadapi serangan digital.
Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go, menegaskan bahwa organisasi perlu meningkatkan kelincahan operasional untuk menghadapi perubahan ancaman. Menurut dia, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan perangkat keamanan canggih jika proses internal masih menghambat respons terhadap serangan.
95 Persen Organisasi di Indonesia Mengalami Insiden Siber
Angka 95 persen dalam laporan Cisco memperlihatkan besarnya tantangan keamanan digital yang dihadapi organisasi di Indonesia. Insiden tersebut berdampak signifikan terhadap operasional bisnis selama satu tahun terakhir.
Selain itu, lebih dari separuh insiden melibatkan serangan yang diperkuat AI. Teknologi ini dapat mempercepat berbagai tahapan serangan digital, sehingga organisasi perlu meningkatkan kemampuan deteksi, analisis, dan penanganan ancaman.
Di sisi lain, perusahaan juga harus menghadapi keterbatasan dalam menghubungkan berbagai sistem keamanan. Ketika informasi tersebar di banyak platform, tim keamanan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami situasi dan menentukan tindakan yang tepat.
Cisco menjelaskan bahwa hambatan operasional dapat memperlambat pertahanan siber. Proses persetujuan yang panjang, data yang terpisah, serta koordinasi yang kurang efektif membuat organisasi kesulitan merespons ancaman secara cepat.
Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi cara kerja tim keamanan dan teknologi informasi. Investasi pada perangkat perlindungan tetap penting, tetapi organisasi juga perlu memastikan bahwa setiap tim dapat berbagi informasi dan mengambil keputusan tanpa hambatan yang tidak perlu.
Skor Pertahanan Siber Indonesia Mencapai 72 dari 100
Meski menghadapi banyak insiden, organisasi di Indonesia menunjukkan sejumlah capaian dalam pertahanan siber. Cisco mencatat skor rata-rata pertahanan siber Indonesia sebesar 72 dari 100 dalam laporan tersebut.
Selain itu, sebanyak 29 persen organisasi di Indonesia masuk kelompok berkinerja terbaik yang Cisco sebut sebagai Relentless Defenders. Proporsi ini lebih tinggi daripada angka global, yang hanya mencapai 8 persen.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa sebagian organisasi di Indonesia telah membangun kemampuan pertahanan digital yang relatif kuat. Namun, capaian tersebut tidak berarti seluruh organisasi memiliki kesiapan yang sama dalam menghadapi ancaman.
Sebaliknya, angka insiden yang tinggi memperlihatkan bahwa organisasi tetap menghadapi risiko operasional. Perusahaan perlu mempertahankan kemampuan teknis sekaligus memperbaiki proses kerja agar dapat mengurangi dampak serangan.
Dengan demikian, skor pertahanan yang baik perlu berjalan beriringan dengan kemampuan merespons insiden. Organisasi juga harus memastikan bahwa sistem keamanan mampu memberikan gambaran ancaman secara menyeluruh kepada tim yang bertanggung jawab.
Koordinasi Tim Masih Menjadi Hambatan
Salah satu temuan penting dalam laporan Cisco berkaitan dengan koordinasi antara tim keamanan, jaringan, dan teknologi informasi. Hanya 63 persen organisasi di Indonesia yang menyatakan bahwa ketiga fungsi tersebut bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas dan perangkat yang sama.
Kondisi ini dapat menyulitkan penanganan insiden ketika serangan melibatkan beberapa sistem sekaligus. Tanpa informasi yang terhubung, setiap tim berisiko memiliki pemahaman berbeda mengenai sumber ancaman dan langkah penanganannya.
Selain itu, sebanyak 38 persen organisasi menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan serta menghubungkan data dari berbagai sistem daripada menangani ancaman siber. Temuan ini menyoroti persoalan efisiensi yang dapat mengurangi waktu tim untuk melakukan tindakan perlindungan.
Masalah lain muncul dalam akses terhadap informasi. Sebanyak 46 persen organisasi mengaku kehilangan informasi penting karena data berada di luar jangkauan mereka.
Akibatnya, tim keamanan dapat mengalami kesulitan ketika harus menyusun gambaran ancaman secara utuh. Informasi yang tidak tersedia pada waktu yang tepat juga berpotensi memperlambat proses penilaian risiko dan penentuan prioritas penanganan.
Oleh karena itu, organisasi perlu memperkuat integrasi data dan menyelaraskan alur kerja antar-tim. Langkah tersebut dapat membantu perusahaan mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan mengarahkan lebih banyak sumber daya untuk menangani ancaman nyata.
AI Membuat Kecepatan Respons Semakin Penting
Cin Cin Go menilai bahwa AI telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam keterangan resmi yang diterima KompasTekno pada Minggu (18/10/2026).
“AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Di era pasca-Mythos, kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi,” kata Cin Cin.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kemampuan organisasi untuk menyesuaikan proses kerja dengan perubahan ancaman. Perusahaan perlu mengurangi hambatan komunikasi agar tim dapat bertukar informasi dan menentukan tindakan secara lebih cepat.
Selain itu, organisasi perlu mengintegrasikan keamanan siber ke dalam operasional bisnis sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu divisi, tetapi juga menjadi bagian dari pengambilan keputusan di berbagai fungsi perusahaan.
Namun, integrasi tersebut membutuhkan tata kelola yang jelas. Organisasi harus menentukan tanggung jawab setiap tim, memperbaiki alur eskalasi insiden, serta memastikan pihak yang berwenang dapat mengambil keputusan ketika ancaman muncul.
Perusahaan Perlu Memperbaiki Proses Pertahanan Digital
Temuan Cisco memperlihatkan bahwa organisasi membutuhkan pendekatan keamanan siber yang menggabungkan teknologi dan kesiapan operasional. Perangkat keamanan canggih tetap berperan penting, tetapi efektivitasnya juga bergantung pada cara perusahaan mengelola informasi dan mengoordinasikan tim.
Pertama, perusahaan perlu meningkatkan visibilitas terhadap sistem dan data. Akses informasi yang lebih terintegrasi membantu tim memahami hubungan antar-insiden dan menentukan prioritas penanganan.
Kedua, organisasi perlu mempercepat proses pengambilan keputusan. Prosedur yang jelas dapat mengurangi keterlambatan ketika tim membutuhkan persetujuan untuk mengisolasi sistem atau menangani aktivitas mencurigakan.
Ketiga, perusahaan perlu memperkuat kolaborasi antara tim keamanan, jaringan, dan teknologi informasi. Koordinasi yang baik membantu setiap tim memahami situasi yang sama dan menjalankan langkah penanganan secara terarah.
Terakhir, organisasi perlu menilai kesiapan mereka secara berkala. Evaluasi tersebut dapat mencakup kemampuan mendeteksi serangan, kecepatan respons, integrasi data, serta efektivitas komunikasi antara tim teknis dan jajaran eksekutif.
Pada akhirnya, laporan Cisco menegaskan bahwa ancaman siber berbasis AI menuntut lebih dari sekadar peningkatan teknologi. Organisasi di Indonesia perlu membangun pertahanan yang tangkas, terintegrasi, dan mampu mengambil keputusan dengan cepat agar gangguan terhadap operasional bisnis dapat diminimalkan.




