Senin, 26 Oktober 2026Surat Kabar Informasi Terkini
SuratKami.com
Surat Kabar Informasi Terkini

Danantara Bongkar Inefisiensi BUMN, Bidik Hemat Triliunan

Oleh Dwi Prakoso · Oktober 26, 2026 · 4:16 pm
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

SuratKami.com – Jakarta, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkap praktik transaksi berlapis antarperusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang memicu pembengkakan biaya operasional. Praktik tersebut membuat sejumlah perusahaan dalam satu grup memperoleh keuntungan dari transaksi internal, sehingga biaya akhir menjadi lebih tinggi.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan persoalan tersebut dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026). Ia menilai struktur bisnis yang melibatkan terlalu banyak perusahaan perantara perlu dibenahi agar operasional BUMN lebih efisien.

Menurut Dony, pola transaksi berlapis terjadi di sejumlah sektor, termasuk telekomunikasi dan energi. Setiap entitas mengambil keuntungan dari transaksi yang berlangsung dalam satu kelompok usaha. Akibatnya, perusahaan harus menanggung biaya tambahan yang sebenarnya berpotensi ditekan melalui penyederhanaan struktur bisnis.

Danantara Ungkap Biaya Operasional BUMN Membengkak

Dony mencontohkan operasional PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), terutama pembangunan jaringan serat optik untuk mendukung layanan IndiHome. Menurut penjelasannya, proses pembangunan tersebut melewati empat perusahaan berbeda di lingkungan grup perusahaan.

Setiap perusahaan mengambil keuntungan dari proses tersebut. Dengan demikian, biaya yang harus ditanggung pada tahap akhir menjadi lebih tinggi dibandingkan biaya yang dikeluarkan pesaing untuk pekerjaan sejenis.

Dony menyebut biaya tersebut mencapai 150% lebih tinggi daripada biaya para pesaing. Ia menegaskan bahwa perbedaan biaya itu menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam pembenahan perusahaan milik negara.

Namun, persoalan utamanya bukan sekadar jumlah perusahaan yang terlibat. Struktur transaksi internal juga menentukan besarnya biaya operasional. Karena itu, Danantara ingin menyederhanakan rantai bisnis agar perusahaan dapat mengurangi biaya perantara dan meningkatkan efisiensi.

Transaksi Berlapis Juga Terjadi di Pertamina

Selain sektor telekomunikasi, Dony menyoroti pola transaksi dalam kelompok usaha Pertamina. Ia menjelaskan bahwa Patra Niaga memegang kepemilikan produk, sedangkan perusahaan pelayaran dalam grup bertugas mengangkut produk tersebut.

Selanjutnya, perusahaan pelayaran itu menyewa pihak swasta untuk menjalankan pengangkutan. Rantai transaksi tersebut menciptakan beberapa tahapan bisnis yang berpotensi menambah biaya dan keuntungan di antara entitas yang terlibat.

Menurut Dony, perusahaan pelayaran dalam struktur tersebut juga memperoleh keuntungan dari transaksi internal. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan perlu mengevaluasi hubungan bisnis antaranak usaha agar biaya operasional tidak terus membengkak.

Sebagai langkah pembenahan, Danantara menggabungkan tiga perusahaan hilir Pertamina, yakni Patra Niaga, PIS, dan satu entitas internasional, menjadi satu struktur usaha. Dony menyatakan bahwa penghematan dari penggabungan tersebut sudah terlihat dalam enam bulan.

Langkah konsolidasi ini bertujuan menyederhanakan proses bisnis dan mengurangi tumpang tindih kegiatan antarentitas. Meski demikian, besaran penghematan secara terperinci tidak dijelaskan dalam keterangan tersebut.

Potensi Penghematan Mencapai US$3,5 Miliar

Danantara memperkirakan inefisiensi akibat transaksi berlapis di lingkungan BUMN mencapai US$2 miliar per tahun. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi penghematan jika perusahaan mampu memperbaiki struktur transaksi dan operasionalnya.

Selain itu, Dony menyoroti kondisi perusahaan BUMN yang masih merugi. Ia menyebut sekitar 52% perusahaan BUMN mengalami kerugian dengan nilai sekitar Rp20 triliun atau setara US$1,5 miliar per tahun.

Menurut perhitungan yang disampaikan Dony, penutupan perusahaan-perusahaan yang merugi tersebut berpotensi menghasilkan penghematan hingga US$3,5 miliar setiap tahun. Namun, angka itu merupakan potensi penghematan, bukan hasil yang sudah terealisasi.

Oleh karena itu, rencana efisiensi perlu mempertimbangkan kondisi setiap perusahaan. Pemerintah dan Danantara perlu menilai kontribusi bisnis, kebutuhan operasional, serta dampak keputusan terhadap layanan dan tenaga kerja sebelum menentukan langkah restrukturisasi.

Danantara Fokus pada Delapan Perusahaan Utama

Dony juga menjelaskan bahwa sebagian kecil perusahaan BUMN menyumbang sebagian besar dividen. Ia menyebut delapan perusahaan menyumbang sekitar 97% dari total dividen yang diterima setiap tahun.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan untuk menata kembali struktur pengelolaan BUMN. Dengan fokus pada perusahaan yang memberikan kontribusi dividen terbesar, Danantara berharap pengawasan dan pengelolaan bisnis menjadi lebih efektif.

Namun, kontribusi dividen bukan satu-satunya ukuran keberhasilan perusahaan. Kinerja operasional, kualitas layanan, kebutuhan investasi jangka panjang, dan peran strategis bagi perekonomian juga perlu masuk dalam pertimbangan.

Di sisi lain, penyederhanaan struktur perusahaan tidak otomatis menjamin efisiensi. Danantara perlu memastikan proses integrasi berjalan baik, sistem operasional tetap lancar, dan setiap unit usaha memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas.

Dampak Efisiensi BUMN bagi Investor

Rencana pembenahan BUMN menjadi perhatian investor karena efisiensi dapat memengaruhi biaya operasional dan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Jika perusahaan berhasil memangkas biaya tanpa mengurangi kualitas layanan, margin keuntungan berpotensi membaik.

Bagi investor saham, perkembangan tersebut relevan terutama untuk emiten yang terlibat dalam program restrukturisasi. Telkom Indonesia (TLKM), misalnya, perlu mencermati bagaimana penyederhanaan rantai bisnis dapat memengaruhi belanja modal dan efisiensi pembangunan jaringan.

Sementara itu, perubahan struktur usaha di sektor energi dapat memengaruhi koordinasi kegiatan distribusi dan pengangkutan. Investor perlu melihat laporan keuangan, perkembangan biaya operasional, serta kinerja perusahaan untuk menilai apakah konsolidasi benar-benar memberikan manfaat finansial.

Meski begitu, potensi penghematan yang disampaikan Danantara tidak serta-merta menjadi jaminan kenaikan harga saham. Pergerakan saham juga dipengaruhi kondisi pasar, prospek pendapatan, valuasi, kebijakan pemerintah, dan sentimen investor.

Dengan demikian, langkah Danantara membongkar transaksi berlapis menandai upaya memperbaiki efisiensi BUMN. Tantangan berikutnya terletak pada pelaksanaan konsolidasi, pencapaian penghematan secara nyata, dan kemampuan perusahaan menjaga kinerja bisnis dalam jangka panjang.

Tag:

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)