Sabtu, 24 Oktober 2026Surat Kabar Informasi Terkini
SuratKami.com
Surat Kabar Informasi Terkini

Dari Tambang Ciemas ke Bisnis Digital: Menguji Isu Backdoor Listing SQMI dan STRK

Oleh Jaya Purnama · Oktober 24, 2026 · 10:05 am
Dari Tambang Ciemas Ke Bisnis Digital Menguji Isu Backdoor Listing Sqmi Dan Strk
Dukung
Daftar Isi 4 bagian

Suratkami.com – Potensi backdoor listing SQMI dan STRK kembali menjadi perhatian, tetapi kedua emiten menghadapi transaksi dengan tujuan yang berbeda. PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) memperoleh rencana pendanaan untuk mendukung proyek emas Ciemas, sedangkan PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) berpeluang berganti pengendali.

Perbedaan itu penting karena pendanaan atau perubahan pemegang saham belum otomatis berarti sebuah perusahaan menjadi kendaraan masuknya bisnis baru ke bursa. Untuk menilai arah transaksi, investor perlu melihat pihak yang menerima dana, status kesepakatan, serta perubahan usaha yang benar-benar diumumkan.

Rencana pendanaan SQMI menyasar tambang emas

SQMI memiliki proyek tambang emas Ciemas di Sukabumi, Jawa Barat, dengan luas area sekitar 3.078 hektare. Data per 2018 mencatat cadangan bijih 3,26 juta ton dengan kadar emas rata-rata 7,7 gram per ton. Tambang tersebut mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2023, dengan kapasitas pengolahan 250 ton bijih per hari.

Namun, kegiatan operasionalnya beberapa kali menghadapi hambatan. Dampak El Nino mengganggu kegiatan pada 2023, lalu kelangkaan sianida dan cuaca ekstrem menekan pengolahan pada 2024. Pada 2025, pasokan listrik yang tidak stabil serta kerusakan jalan dan jembatan kembali menghambat aktivitas tambang.

Kondisi tersebut tercermin pada kinerja perusahaan. Pada semester I 2026, SQMI membukukan pendapatan Rp591,04 juta, turun dari Rp925,58 juta pada periode sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatat rugi bersih Rp20,36 miliar.

Penjualan pada periode itu masih ditopang persediaan emas dore senilai Rp782 juta per Juni 2026. Nilainya turun dari Rp908 juta pada akhir 2025. Dengan produksi yang belum optimal, kemampuan memulihkan operasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Persoalan kewajiban turut menambah tekanan. Anak usaha SQMI memiliki pinjaman Rp10,6 miliar yang dijamin 200 juta saham SQMI dan jatuh tempo pada 20 Juni 2026. Hingga laporan keuangan semester I 2026, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai pelunasan atau perpanjangannya. Pinjaman lain senilai Rp15 miliar, dengan jaminan 750 juta saham, telah diperpanjang hingga 5 Februari 2027.

Dalam konteks tersebut, induk usaha SQMI, Wilton Resources Corporation Limited (WRC), menandatangani perjanjian penempatan saham dan obligasi konversi dengan Maxglory Capital Limited (MCL) pada Oktober 2026. Perusahaan investasi swasta dari Hong Kong itu berpotensi menyediakan pendanaan bruto sekitar US$69,91 juta.

Dana tersebut direncanakan untuk melanjutkan pengembangan Ciemas Gold Project, memenuhi kewajiban grup, dan menambah modal kerja. Meski demikian, pihak yang menerima pendanaan adalah WRC, bukan SQMI secara langsung. Karena itu, dana tersebut tidak otomatis menambah kas emiten atau langsung menyelesaikan persoalan operasional anak usahanya.

Kenapa pendanaan WRC belum cukup disebut backdoor listing?

Sejauh informasi yang tersedia, transaksi MCL lebih menunjukkan upaya pendanaan dan kemungkinan perubahan pengendali tidak langsung. Belum ada pengumuman mengenai akuisisi perusahaan lain oleh SQMI ataupun pemasukan aset dan bisnis baru ke dalam emiten.

Hal itu membedakan pendanaan dari backdoor listing. Backdoor listing biasanya menjadi perhatian ketika perubahan pengendali disertai masuknya aset atau kegiatan usaha baru yang mengubah profil perusahaan tercatat. Jadi, besarnya nilai pendanaan saja belum cukup untuk memastikan adanya transaksi semacam itu.

Untuk SQMI, fokus utama yang terlihat masih berkaitan dengan kelanjutan bisnis tambang emas yang sudah dimiliki. Investor dapat mencermati realisasi pendanaan, aliran dana dari WRC ke entitas terkait, serta perkembangan kegiatan Ciemas. Pengumuman lanjutan mengenai aset atau lini usaha baru akan memberi konteks berbeda.

Sebelumnya, manajemen sempat menyatakan adanya pendekatan dengan investor dari China pada Juli 2026, tetapi kepastiannya belum jelas. Kemunculan MCL pada Oktober memberi perkembangan baru soal pendanaan. Namun, informasi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa SQMI akan menjadi kendaraan bagi bisnis lain.

STRK berpotensi berganti pengendali

STRK memiliki cerita berbeda. Perusahaan selama ini menjalankan usaha di industri minuman beralkohol, termasuk produksi dan distribusi craft beer. Pada Oktober 2026, pemegang saham utamanya, PT Barito Mas Sukses, dikabarkan menandatangani kesepakatan awal untuk menjual 61,87 persen saham STRK kepada PT Beruntung Berkat Sejahtera (BBS).

Kesepakatan itu masih bersifat indikatif dan tidak mengikat. Proses pengambilalihan juga bergantung pada hasil uji tuntas serta pemenuhan persyaratan transaksi. Artinya, rencana tersebut belum sama dengan peralihan kendali yang telah tuntas.

Nama BBS menarik perhatian karena perusahaan itu juga tercatat sebagai salah satu pemegang saham utama PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), dengan kepemilikan sekitar 15,09 persen berdasarkan informasi yang beredar. Hubungan tersebut memunculkan spekulasi bahwa STRK mungkin terhubung dengan ekosistem usaha yang lebih luas.

Spekulasi itu ikut menguat karena DOOH merencanakan ekspansi ke infrastruktur digital. Rencana tersebut mencakup akuisisi 29,88 persen saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dengan nilai sekitar Rp2 triliun. Pengembangan yang dikaitkan dengan langkah itu mencakup jaringan serat optik, konektivitas, pusat data, dan infrastruktur digital.

Namun, kepemilikan saham BBS di DOOH tidak berarti seluruh keputusan strategis DOOH otomatis menjadi kebijakan BBS. Hubungan pemegang saham juga tidak otomatis menyatukan kegiatan usaha STRK, DOOH, dan INET. Sampai ada pengumuman resmi, belum ada dasar untuk menyimpulkan STRK akan menerima aset atau bisnis dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Perhatikan realisasi transaksi dan perubahan usaha

Jika pengambilalihan STRK selesai dan perusahaan tetap menjalankan usaha minuman beralkohol, transaksi itu lebih tepat dibaca sebagai pergantian pengendali. Penilaian dapat berubah apabila STRK kemudian mengumumkan akuisisi bisnis baru, menerima injeksi aset, atau mengubah kegiatan usaha secara material.

Hal serupa berlaku untuk SQMI. Pendanaan yang ditujukan kepada induk usaha perlu dibedakan dari masuknya bisnis baru ke emiten. Perkembangan pengendalian, penggunaan dana, dan perubahan kegiatan usaha akan menjadi petunjuk yang lebih kuat daripada spekulasi berdasarkan keterkaitan antarpemegang saham.

Dengan demikian, kedua cerita ini belum memberikan dasar yang sama untuk menyimpulkan adanya backdoor listing. SQMI lebih menonjol sebagai upaya mencari modal bagi tambang yang menghadapi kendala, sedangkan STRK menghadirkan kemungkinan pergantian pengendali dan pertanyaan tentang arah bisnis selanjutnya. Kepastian baru dapat dinilai setelah transaksi dan rencana usaha diumumkan secara resmi.

Tag: ·
Jaya Purnama

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)