Suratkami.com – Jakarta – Harga Bijih Nikel Mulai Normal menjadi sorotan pelaku pasar setelah harga saprolit di Indonesia mulai turun dari level tertingginya. Meski mengalami koreksi, prospek industri nikel nasional masih dinilai tetap menjanjikan dalam jangka menengah hingga panjang.
Pergerakan harga tersebut terjadi setelah bijih nikel saprolit sempat menyentuh kisaran USD80 per wet metric ton (wmt). Kini harga mulai turun ke sekitar USD70 per wmt atau terkoreksi sekitar 14 persen dari puncaknya.
Sementara itu, analis menilai normalisasi harga justru mencerminkan kondisi pasar yang lebih sehat. Selain didukung oleh membaiknya pasokan, risiko regulasi juga dinilai semakin mereda sehingga prospek sektor logam tetap menarik bagi investor.
Harga Bijih Nikel Mulai Normal Setelah Tekanan Pasar Mereda
Dalam riset yang diterbitkan pada 15 Juli 2026, analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam. Mereka kembali menjadikan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai pilihan utama.
Indo Premier mencatat harga bijih nikel saprolit berkadar 1,6 persen turun menjadi sekitar USD70 per wmt dari sebelumnya berada di kisaran USD80 per wmt. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya harga nikel di London Metal Exchange (LME).
Selain itu, kemampuan smelter nickel pig iron (NPI) dalam menyerap kenaikan harga bijih juga masih terbatas. Akibatnya, harga bijih nikel tidak mampu bertahan di level tertinggi yang sempat tercapai beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, harga NPI relatif stabil meski biaya energi mengalami kenaikan akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membantu menjaga keseimbangan pasar di tengah tekanan harga komoditas global.
Sementara itu, cuaca yang mulai membaik setelah musim hujan pada semester pertama 2026 turut meningkatkan pasokan bijih nikel. Bertambahnya suplai tersebut akhirnya memberikan tekanan terhadap harga jual bijih di pasar domestik.
Faktor Regulasi dan RKAB Masih Menjadi Perhatian
Menurut Indo Premier, harga nikel LME yang kini berada di bawah USD18.000 per ton turut memengaruhi tarif royalti bijih nikel. Tarif royalti turun menjadi 14 persen dari sebelumnya 15 persen.
Penurunan tarif tersebut memberikan sedikit ruang keuntungan bagi perusahaan penambang bijih pihak ketiga seperti ANTM dan INCO. Meskipun begitu, pemerintah diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengatur pasokan bijih melalui kebijakan RKAB.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno sebelumnya menyampaikan bahwa penambahan kuota RKAB pada 2026 akan disesuaikan dengan kebutuhan smelter agar tidak terjadi kelebihan pasokan.
Saat ini kuota RKAB diperkirakan berada pada kisaran 260 juta hingga 270 juta wmt. Indo Premier memperkirakan tambahan persetujuan kuota hanya sekitar 30 juta hingga 40 juta wmt sehingga keseimbangan pasar tetap terjaga.
Di antara perusahaan yang dipantau, INCO mengajukan tambahan kuota sekitar 12 juta wmt untuk mendukung proyek Pomalaa High Pressure Acid Leach (HPAL). Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengajukan tambahan sekitar 7 juta wmt guna memasok proyek PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).
Revisi HPM Limonit Berpotensi Menjadi Katalis Positif
Selain perkembangan harga, Indo Premier juga menyoroti peluang perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih limonit.
Saat ini harga transaksi limonit di pasar berkisar antara USD25 hingga USD30 per wmt. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan HPM yang masih berada di kisaran USD40 hingga USD45 per wmt, tergantung kadar bijih dan harga nikel LME.
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, pemerintah disebut sedang meminta masukan dari pelaku industri mengenai formula baru HPM limonit. Mayoritas pelaku usaha mengusulkan agar HPM disesuaikan dengan harga pasar yang berlaku.
Apabila revisi tersebut diterapkan, beban royalti dan pajak penghasilan dari penjualan bijih limonit diperkirakan akan menurun. Karena itu, perusahaan terintegrasi seperti INCO, MBMA, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) berpotensi memperoleh manfaat yang lebih besar.
Prospek Sektor Nikel Masih Menarik
Indo Premier menilai kondisi fiskal pemerintah yang semakin membaik ikut menurunkan risiko perubahan regulasi di sektor nikel. Hal tersebut menjadi sentimen positif bagi industri pertambangan dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat memang diperkirakan masih relatif tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Namun, kondisi tersebut dipandang hanya bersifat sementara sehingga prospek harga komoditas tetap positif untuk jangka menengah dan panjang.
Atas dasar itu, Indo Premier kembali mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor logam. Dua emiten yang paling dijagokan tetap MDKA dan INCO.
MDKA dinilai memiliki peluang besar mencatat pemulihan profitabilitas seiring membaiknya kondisi operasional. Sementara itu, INCO diperkirakan mampu membukukan pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS) yang lebih kuat.
Selain itu, potensi revisi formula HPM limonit dapat menjadi katalis tambahan bagi INCO. Kebijakan tersebut membuka peluang dimulainya penjualan bijih limonit untuk memasok proyek Pomalaa HPAL sehingga mendukung pertumbuhan kinerja perusahaan pada masa mendatang.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, Harga Bijih Nikel Mulai Normal dinilai bukan menjadi sinyal pelemahan industri. Sebaliknya, normalisasi harga justru mencerminkan keseimbangan pasar yang lebih sehat. Selama permintaan global tetap terjaga dan kebijakan pemerintah mendukung stabilitas pasokan, sektor nikel Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan yang menarik bagi investor maupun pelaku industri.





