Suratkami.com, Jakarta – Saham OASA-BIPI reli dalam tiga hari terakhir seiring sentimen kolaborasi proyek PSEL (waste-to-energy) yang memperkuat prospek energi hijau kedua emiten.
Saham PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mencatat penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Reli ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE).
Penguatan harga saham OASA dan BIPI dinilai tidak lepas dari sentimen positif kerja sama strategis dalam pengembangan proyek PSEL. Proyek ini menjadi bagian dari upaya transisi menuju energi bersih yang saat ini tengah didorong pemerintah dan pelaku industri.
Selain itu, minat investor terhadap sektor energi hijau kembali meningkat setelah sebelumnya mengalami tekanan pada kuartal pertama 2026. Momentum ini turut mendorong volume transaksi kedua saham melonjak cukup signifikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saham OASA dan BIPI Kompak Menguat
Berdasarkan data perdagangan BEI hingga pukul 11.08 WIB, saham OASA melonjak 9,58 persen ke level Rp366 per saham. Nilai transaksi mencapai Rp55,72 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 151,2 juta saham.
Sementara itu, saham BIPI juga mencatat kenaikan sebesar 3,20 persen ke harga Rp258 per saham. Nilai transaksi bahkan tergolong jumbo, menembus Rp225 miliar, yang mencerminkan tingginya minat pelaku pasar.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa sentimen proyek waste-to-energy atau PSEL mulai direspons positif oleh investor. Selain sebagai peluang bisnis baru, sektor ini juga dianggap memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.
Sentimen Proyek Waste-to-Energy Jadi Katalis
Pengamat pasar modal, Michael Yeoh, menyebut OASA dan BIPI berada dalam sektor yang saat ini tengah menjadi fokus pengembangan energi baru, khususnya waste-to-energy.
Menurutnya, proyek PSEL menjadi katalis penting yang mampu mendorong kinerja saham kedua emiten tersebut. Apalagi, sektor energi berbasis pengolahan sampah dinilai memiliki potensi besar di Indonesia yang menghadapi tantangan pengelolaan limbah.
Ia juga menilai pergerakan saham OASA dan BIPI mulai menunjukkan tren pemulihan setelah sempat melemah pada awal tahun. Hal ini terlihat dari meningkatnya volume transaksi dan pergerakan harga yang lebih stabil.
Analisis Teknikal: Masih Ada Ruang Naik
Secara teknikal, saham BIPI diperkirakan masih memiliki potensi kenaikan dalam jangka pendek. Level resistance berada di kisaran Rp300, dengan support penting di Rp224 yang perlu dijaga investor.
Sementara itu, saham OASA dinilai memiliki peluang penguatan lebih besar. Target harga berada di level Rp400 hingga Rp470, dengan batas support di area Rp290.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar disarankan tetap mencermati pergerakan harga dan volume transaksi. Strategi trading jangka pendek dinilai masih relevan, terutama bagi investor yang memanfaatkan momentum reli.
Kolaborasi Strategis Perkuat Bisnis Energi Hijau
Sebelumnya, OASA dan BIPI memperkuat kerja sama di sektor energi hijau melalui transaksi saham pada entitas usaha yang terlibat dalam proyek PSEL. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi bisnis berkelanjutan.
Direktur sekaligus Corporate Secretary OASA, Chandra Devikemalawaty, menjelaskan bahwa langkah tersebut berkaitan dengan pengembangan PT Indoplas Energi Hijau. Perusahaan ini merupakan hasil kerja sama dengan China Tianying Inc melalui PT Indoplas Tianying Energy.
Proyek tersebut bahkan telah memenangkan lelang sebagai pelaksana pembangunan dan pengoperasian fasilitas PSEL Cipeucang di Kota Tangerang Selatan sejak April 2025.
Pada 6 April 2026, OASA melalui anak usahanya menjual sebagian saham di PT Indoplas Energi Hijau kepada BIPI. Transaksi ini dilakukan untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan proyek waste-to-energy.
Strategi Investasi dan Prospek Jangka Panjang
Dari sisi BIPI, langkah akuisisi saham juga menjadi bagian dari strategi memperkuat portofolio energi hijau. Corporate Secretary BIPI, Kurniawati Budiman, menyatakan transaksi ini memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan jangka panjang.
BIPI juga membeli saham PT Maharaksa Energi Hijau sebesar 20 persen dengan nilai transaksi Rp500 juta. Investasi ini mencerminkan komitmen perseroan dalam mengembangkan bisnis energi berkelanjutan.
Manajemen menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak termasuk kategori material dan tidak memiliki hubungan afiliasi. Hal ini sekaligus menunjukkan transparansi dan tata kelola perusahaan yang baik.
Ke depan, kolaborasi proyek PSEL diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan kedua emiten. Dengan meningkatnya kebutuhan energi bersih dan pengelolaan limbah, sektor waste-to-energy berpotensi menjadi primadona baru di pasar modal Indonesia.
Dengan kombinasi sentimen positif, strategi ekspansi, dan dukungan tren energi hijau global, saham OASA-BIPI dinilai masih menarik untuk dicermati oleh investor, baik untuk jangka pendek maupun investasi jangka panjang.





