Daftar Isi 4 bagian
Suratkami.com – Tambang NTB di Blok Elang, Kabupaten Sumbawa, dan Hu’u, Kabupaten Dompu, mengincar tahap operasi produksi pada waktu berbeda. PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menargetkan proyek Elang beroperasi pada 2028, sedangkan PT Sumbawa Timur Mining (STM) membidik 2031 untuk proyeknya di Hu’u.
Kedua jadwal itu masih bergantung pada proses perizinan dan persiapan pendukung. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin, mengatakan izin untuk kedua proyek masih berproses. Karena itu, tanggal sasaran belum berarti kegiatan produksi akan berlangsung otomatis sesuai jadwal.
Perbedaan tahap pengembangan juga terlihat dari pekerjaan yang perlu diselesaikan. AMNT masih mengurus izin penggunaan kawasan hutan, sementara STM selain mengurus perizinan juga menyiapkan sarana dan prasarana. Di sisi lain, data eksplorasi menunjukkan skala sumber daya dan cadangan yang besar pada kedua lokasi.
Tambang NTB masih menunggu kepastian perizinan
Untuk proyek Elang, Samsudin menyebut proses izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) masih berjalan. Menurutnya, kelancaran proses tersebut menjadi salah satu hal yang menentukan langkah berikutnya. Perusahaan menargetkan pembangunan fisik mulai pada 2028 apabila tahapan perizinan berjalan lancar.
Samsudin juga menyampaikan bahwa wilayah Elang berada di kawasan hutan. Kondisi itu membuat penyelesaian izin terkait kawasan menjadi perhatian sebelum pembangunan dapat dimulai. Dengan demikian, target operasi produksi pada 2028 perlu dibaca bersama jadwal pembangunan yang juga ditargetkan mulai pada tahun tersebut, bukan sebagai kepastian bahwa semua tahapan sudah selesai.
Di Hu’u, STM menargetkan operasi produksi pada 2031. Samsudin mengatakan perusahaan telah menyampaikan target tersebut dan masih menjalani proses perizinan. Perusahaan juga menyiapkan kebutuhan sarana serta prasarana pendukung untuk pengembangan tambang.
Jarak beberapa tahun antara sasaran kedua proyek menunjukkan bahwa masing-masing memiliki tahapan pengembangan sendiri. Namun, keduanya menghadapi syarat dasar yang sama: menyelesaikan urusan izin dan menyiapkan kegiatan sebelum operasi produksi. Samsudin menegaskan bahwa kelancaran proses akan berpengaruh pada pencapaian jadwal.
Cadangan Elang bertambah dalam laporan terbaru
Elang merupakan proyek eksplorasi tembaga dan emas AMNT di Sumbawa. Laporan sumber daya dan cadangan yang mengacu pada standar Joint Ore Reserves Committee (JORC) per 31 Desember 2024 mencatat cadangan bijih Elang sebesar 2,5 miliar metrik ton. Angka itu meningkat 79 persen dibanding laporan 2023 yang mencatat 1,4 miliar metrik ton.
Laporan yang sama mencatat kenaikan kandungan tembaga dan emas. Kandungan tembaga bertambah 71 persen, dari 10,4 miliar pon menjadi 17,8 miliar pon. Sementara itu, kandungan emas naik 76 persen, dari 15 juta ons menjadi 26,4 juta ons.
Angka-angka tersebut menggambarkan hasil pelaporan cadangan, tetapi tidak menghapus pekerjaan yang harus ditempuh sebelum produksi. Proyek masih perlu melewati proses perizinan dan pembangunan. Karena itu, besarnya cadangan menjadi konteks mengenai potensi Elang, bukan penanda bahwa tambang telah memasuki tahap operasi.
AMNT juga terus mengeksplorasi kawasan tersebut. Sejak 2020, tim perusahaan menemukan cebakan porfiri tembaga dan emas Elang Selatan, yang berdekatan dengan cebakan utama dan berada lebih dalam. Informasi perusahaan menyebut kadar mineral di Elang Selatan sedikit lebih tinggi.
Hasil pengeboran inti sejak 2020, perubahan harga logam, dan studi rekayasa turut menjadi bagian dari perkembangan kajian proyek. Dalam materi perusahaan, faktor-faktor itu menunjukkan bahwa rancangan tambang terbuka untuk studi kelayakan sebelumnya berpotensi berkembang menjadi skala lebih besar. Namun, rincian dan keputusan pengembangan tetap harus mengikuti kajian serta tahapan proyek.
STM mengembangkan potensi cebakan Onto
Proyek STM berada di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, dengan kegiatan eksplorasi yang telah berjalan sejak 2010. Perusahaan menemukan potensi sumber daya tembaga dan emas di cebakan Onto. Estimasi yang diumumkan mencapai sekitar 2 miliar ton.
Perkiraan tersebut bersandar pada hasil 74 lubang pemboran dengan total kedalaman 74.130 meter. Pengumuman perusahaan merinci sumber daya tertunjuk sekitar 1,1 miliar ton dan sumber daya terekam sekitar 1 miliar ton. Angka-angka itu menjelaskan hasil eksplorasi yang telah diumumkan, bukan volume produksi tahunan atau jumlah mineral yang pasti dapat ditambang.
STM memegang kontrak karya generasi ketujuh yang ditandatangani pemerintah pada 19 Februari 1998. Meski eksplorasi telah berlangsung bertahun-tahun, perusahaan masih perlu mengurus izin dan menyiapkan fasilitas pendukung sebelum mengejar target operasi produksi. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dari rencana menuju 2031.
Jadwal produksi tetap bergantung pada tahap proyek
ESDM NTB telah memetakan Elang dan Hu’u sebagai dua proyek besar dalam potensi pertambangan daerah. Samsudin mengaitkan keduanya dengan potensi cadangan logam nasional senilai Rp5.400 triliun yang disebut Kementerian ESDM. Nilai tersebut merujuk pada potensi tingkat nasional, sementara kedua proyek menjadi bagian dari pemetaan potensi di NTB.
Meski sama-sama mengandung tembaga dan emas, proyek Elang dan Hu’u memiliki data eksplorasi serta jadwal berbeda. Elang mencatat cadangan bijih 2,5 miliar ton dalam laporan JORC yang disebutkan AMNT, sedangkan Onto memiliki estimasi sumber daya sekitar 2 miliar ton menurut STM. Istilah cadangan dan sumber daya memiliki kategori pelaporan berbeda, sehingga angka keduanya tidak tepat diperlakukan sebagai ukuran yang sama.
Bagi NTB, dua target produksi itu menandai rencana pengembangan pertambangan dalam jangka panjang. Namun, langkah konkret berikutnya tetap bergantung pada izin, pembangunan, dan kesiapan sarana. Perkembangan proses tersebut akan menentukan apakah sasaran 2028 di Elang dan 2031 di Hu’u dapat tercapai.




