Sabtu, 24 Oktober 2026Surat Kabar Informasi Terkini
SuratKami.com
Surat Kabar Informasi Terkini

Nebulae Cymbal, Berawal dari Krisis Moneter 1997

Oleh Jaya Purnama · Oktober 24, 2026 · 11:48 am
Nebulae Cymbal, Berawal dari Krisis Moneter 1997
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

SuratKami.com – Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kisah Nebulae Cymbal menunjukkan bagaimana krisis ekonomi dapat mendorong lahirnya kreativitas di industri musik lokal. Surya Sumirat mulai merakit simbal drum pada 1997 ketika krisis moneter membuat harga komponen impor melonjak dan biaya operasional studio rental musik miliknya semakin berat.

Awalnya, Surya membuat simbal tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan studionya sendiri. Namun, hasil eksperimennya menarik perhatian pengelola rental musik lain di Kabupaten Bandung. Selanjutnya, permintaan mulai meluas hingga menjangkau sejumlah toko alat musik.

Berbekal keterampilan teknik mesin yang ia pelajari sejak berusia 11 tahun, Surya mengembangkan usaha rumahan ini secara bertahap. Bahkan, perjalanan Nebulae Cymbal tetap berlanjut ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Setelah melewati berbagai pengalaman produksi, Surya juga memperdalam riset material untuk meningkatkan kualitas simbal buatannya.

Nebulae Cymbal Berawal dari Krisis Moneter 1997

Surya memulai perjalanan Nebulae Cymbal ketika ia menghadapi persoalan operasional studio rental musik. Pada 1997, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat pembelian simbal semakin sulit. Padahal, instrumen tersebut menjadi salah satu perlengkapan yang harus ia sediakan untuk menunjang aktivitas studio.

Dalam keterangannya saat ditemui di rumah produksi Nebulae Cymbal pada Jumat (23/10/2026), Surya mengenang keputusan yang akhirnya mengubah arah kegiatannya. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pribadi menjadi alasan utama ketika pertama kali membuat simbal.

“Nebulae mulai dibuat pada tahun 1997. Itu untuk pemakaian pribadi, karena dulu kami mempunyai satu studio rental, di mana pada tahun tersebut kita mengalami kesulitan untuk proses pembelian simbal,” kata Surya.

Ia juga mengingat dampak krisis moneter terhadap biaya operasional. Pelemahan rupiah membuat pengeluaran untuk membeli simbal semakin besar, sementara studio membutuhkan instrumen tersebut sebagai bagian dari perlengkapan drum.

Karena itu, Surya memanfaatkan keterampilan teknik mesin untuk mencari solusi sendiri. Ia mulai merakit simbal tanpa harus sepenuhnya bergantung pada produk yang tersedia di pasaran. Keputusan sederhana tersebut kemudian membuka peluang usaha yang sebelumnya tidak ia rencanakan.

Kebutuhan Studio Membuka Peluang Pasar

Pada tahap awal, Surya tidak langsung membangun industri dengan skala besar. Ia lebih dahulu berfokus pada kebutuhan studio rental miliknya. Namun, simbal hasil buatannya ternyata menarik perhatian pelaku usaha musik lain di sekitar Kabupaten Bandung.

Ketertarikan tersebut memperlihatkan adanya peluang bagi produsen lokal untuk memenuhi kebutuhan pemain drum. Setelah itu, produk Nebulae Cymbal mulai menjangkau pengelola rental musik lain dan sejumlah toko alat musik.

Perkembangan ini berangkat dari persoalan yang sangat praktis. Surya membutuhkan simbal untuk menjaga kegiatan studionya tetap berjalan, tetapi kondisi ekonomi saat itu menyulitkan pembelian instrumen tersebut. Ia kemudian mengubah keterampilan yang sudah dimilikinya menjadi jalan keluar sekaligus peluang usaha.

Selain itu, pengalaman Surya di bidang teknik mesin memberinya bekal untuk mengerjakan material logam. Pengetahuan tersebut menjadi fondasi dalam proses eksperimen dan pengembangan produk. Dengan demikian, Nebulae Cymbal tumbuh dari perpaduan kebutuhan nyata, keterampilan teknis, dan respons terhadap kondisi ekonomi.

Simbal Memiliki Tantangan Daya Tahan

Surya memilih simbal sebagai fokus produksi karena instrumen ini menghadapi tantangan daya tahan selama pemakaian. Pemain drum memukul permukaan simbal berulang kali menggunakan stik. Akibatnya, simbal dapat mengalami kerusakan atau pecah, terutama bergantung pada cara pemakaian dan karakter permainan.

Menurut Surya, simbal yang pecah perlu diganti agar pemain dapat terus menggunakannya. Ia menilai harapan untuk memiliki simbal yang sama sekali tidak akan pecah sulit terwujud. Meski begitu, pola permainan tertentu dapat memengaruhi tingkat risiko kerusakan.

“Simbal itu salah satu instrumen yang harus diganti ketika pecah, dan pecahnya itu pasti,” ujar Surya.

Ia menjelaskan bahwa pemain dengan pendekatan permainan yang lembut, seperti pada genre jazz tertentu, memiliki peluang lebih besar untuk menjaga simbal tetap utuh. Sebaliknya, intensitas pukulan dan cara memainkan instrumen turut memengaruhi daya tahannya.

Karakter pemakaian tersebut membuat simbal menjadi perlengkapan yang membutuhkan perhatian khusus. Bagi produsen, tantangannya bukan sekadar membentuk logam menjadi instrumen, melainkan juga memahami material yang sesuai dengan kebutuhan suara dan penggunaan pemain drum.

Nebulae Cymbal Mengembangkan Material Bronze B20

Dalam perjalanan produksinya, Surya sempat bereksperimen menggunakan kuningan atau brass. Ia kemudian mengembangkan pendekatannya setelah melakukan riset lebih mendalam seusai pandemi Covid-19.

Pada tahap berikutnya, Surya beralih menggunakan perunggu atau bronze B20. Material ini memiliki komposisi 80 persen tembaga dan 20 persen timah putih. Peralihan tersebut menjadi bagian penting dalam upayanya mengembangkan karakter simbal Nebulae.

Dalam industri alat musik, campuran bronze B20 juga dikenal sebagai salah satu material yang digunakan produsen simbal kelas atas. Komposisinya menjadi pertimbangan dalam menghasilkan karakter suara yang matang dan berbobot.

Meski demikian, pemilihan material tidak otomatis menjamin hasil akhir yang sama pada setiap produk. Proses pengerjaan dan karakter instrumen juga berperan dalam menentukan suara yang dihasilkan. Karena itu, riset material menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan produk Nebulae Cymbal.

Perubahan material tersebut memperlihatkan bahwa Surya tidak berhenti pada eksperimen awal. Ia terus mencari pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Langkah ini juga menunjukkan perkembangan usaha dari pembuatan simbal untuk pemakaian sendiri menuju pengembangan produk yang menjangkau pasar lebih luas.

Proses Pembuatan Simbal Dimulai dari Peleburan

Pembuatan simbal membutuhkan tahapan pengerjaan logam yang menuntut ketelitian. Prosesnya bermula dari bahan dasar tembaga dan timah putih yang kemudian dilebur untuk membentuk material awal.

Dalam proses tersebut, suhu peleburan dapat mencapai 1.300 derajat Celsius. Tahap ini menjadi bagian awal perjalanan material sebelum berubah menjadi instrumen musik yang siap digunakan.

Pengolahan logam menjadi simbal menunjukkan bahwa produksi instrumen musik tidak hanya mengandalkan kemampuan musikal. Keterampilan teknik, pemahaman material, dan ketelitian pengerjaan juga memegang peranan penting.

Bagi Surya, perjalanan sejak 1997 menjadi bukti bagaimana persoalan operasional dapat mendorong seseorang mengembangkan kemampuan yang sudah dimilikinya. Ia memulai pembuatan simbal untuk mengatasi kesulitan membeli instrumen saat krisis moneter. Selanjutnya, perhatian dari pelaku usaha musik lain membuka jalan bagi perkembangan Nebulae Cymbal.

Perjalanan tersebut juga memperlihatkan daya tahan usaha rumahan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Dari bengkel kecil di Kampung Tenjolaya, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Surya terus mengembangkan produksi simbal melalui pengalaman dan riset material.

Kisah Nebulae Cymbal pada akhirnya menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari kebutuhan sehari-hari. Ketika harga simbal meningkat akibat krisis moneter, Surya memilih mencari solusi melalui keterampilan teknik mesin. Keputusan itu kemudian berkembang menjadi perjalanan produksi instrumen musik lokal yang bertahan selama bertahun-tahun.

Tag: ·
Jaya Purnama

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)